Desa Dagan merupakan wilayah kecamatan Bobotsari, kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Secara geografis wilayah desa Dagan dikelilingi oleh dua sungai. Sungai Klawing terletak disebelah utara, merupakan aliran sungai sepanjang kurang-lebih 40 km, dengan hulu sungai berada didesa Tlahab Kidul, kecamatan Karangreja. Pada bagian selatan terdapa sungai Longkrang dengan panjang kurang-lebih 7 km, merupakan anak sungai Klawing. Kondisi geografi juga didukung dengan kesuburan tanah serta dikelilingi rangkaian pegunungan kendeng yang berupakan bagian dari kaki gunung Slamet.
Dengan kondisi alam yang demikian, maka sejak kurang lebih antara tahun 2000SM-500SM desa Dagan pernah ditempati oleh para imigran dari bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu. Proto Melayu merupakan imigran dari Yunan yang masuk ke Indonesia dengan membawa kebudayaan neolithik. Salah satu dari kebudayaan tersebut adalah barang-barang perhiasan yang terbuat dari batu indah semacam khalcedon. Jenis batuan tersebut kemudian digunakan sebagai bahan baku untuk membuat perhiasan seperti gelang batu. Sedangkan proses pembuatannya berlangsung didesa Dagan, dengan terlebih dahulu mengambil batu-batu baik disungai Klawin, Longrang, Tuntunggunung dan Laban.
Selasa, 21 Februari 2012
C. JEJAK PRASEJARAH DUKUH WATU TUMPANG
Dukuh Watu Tumpang merupakan wilayah
desa Banjarsari, Kecamatan Bobotsari. Letaknya disebelah utara dukuh Mujan,
menyeberangi sungai Klawing. Pedukuhan ini merupakan daerah perbukitan, dimana
pada ujung puncak sebelah barat tepatnya ditebing sungai Klawing, terdapat
bangunan batu besar. Bangunan batu besar ini oleh penduduk setempat disebut “Watu
Tumpang,“ namun jika dilihat dari keadaan yang sesungguhnya menyerupai
punden berundak-undak. Sehingga daerah perbukitan tersebut, oleh penduduk
sekitarnya diberi nama “Watu Tumpang.”
Mengingat letaknya yang sejajar dengan dukuh
Mujan, maka antara kedua bangunan tersebut saling berhubungan. Meskipun
kegunaannya berbeda, namun fungsinya sama yaitu untuk memuja arwah nenek
moyang. Kegunaan batu menhir adalah untuk mengikat hewan kurban, sedangkan batu
berundak digunakan untuk melakukan upacara pemujaan.
Bangunan ini terdiri dari tiga buah
batu kali yang disusun berundak-undak, menghadap kearah timur. Pada batu bagian
bawah berukuran besar dan merupakan pondasi alam yang sangat kuat dengan
permukaan bagian atasnya rata. Pada permukaan bagian atas batu tersebut,
disebelah timurnya dibiarkan kosong, sedangkan disebelah barat digunakan untuk
meletakkan dua buah batu. Tiap-tiap susunan batu mempunyai bentuk dan ukuran
yang berbeda-beda. Pada susunan kedua terdapat batu berukuran sedang dengan
permukaan rata, sehingga dapat digunakan untuk meletak batu ketiga. Sedangkan
pada susunan ketiga terdapat batu terakhir yang berukuran kecil.
Apabila dihubungkan dengan sistim
kepercayaan yang dianut oleh manusia purba, maka bangunan ini melambangkan
tingkatan alam kehidupan manusia yang berbeda-beda. Susunan batu bagian bawah
melambangkan kehidupan manusia pada alam dunia yang masih bersifat keduniawian
dan masih rendah tingkatannya. Pada susunan batu kedua melambangkan kehidupan
manusia pada alam antara, dimana arwah
para leluhur merupakan roh halus
yang belum mencapai tingkat
kesempurnaan, sehingga dianggap menempati batu, kayu, binatang dan
tempat-tempat keramat. Sedangkan pada susunan batu ketiga melambangkan
kehidupan arwah manusia yang sudah mencapai kesempurnaan dan menempati alam
maya.
B. JEJAK PRASEJARAH DESA DAGAN
Sesungguhnya peninggalan jaman
prasejarah tidak hanya terdapat didukuh Mujan saja. Namun persebarannya meluas
ketempat – tempat lain, diantaranya ada yang terdapat desa Dagan. Hal ini karena peninggalan prasejarah pada kedua tempat
tersebut letaknya ditepi sungai Klawing dan Sungai Longkrang. Dengan demikian
menunjukkan bahwa daerah yang terletak pada dua aliran sungai tadi, pernah
menjadi tempat tinggal manusia purba. Karena daerah - daerah yang letaknya
ditepi aliran sungai banyak menyediakan bahan makanan berupa ikan.
Peninggalan prasejarah yang terdapat
didesa Dagan, merupakan hasil kebudayaan batu besar Kemudian oleh penduduk
setempat dikenal dengan sebutan “watu tumpang” dan “watu
ngadeg”. Akan tetapi kedua bangunan ini sampai sekarang belum mendapat
perlindungan hukum dan perhatian dari pemerintah.
“Watu tumpang” artinya batu tumpang, letaknya
ditepi sungai Longkrang,
sebelah selatan desa Dagan, tepatnya didukuh Glempang Rt 05, Rw 09.
Adapun bentuk bangunan batu tumpang ini menyerupai dolmen berukuran kecil yang
terbuat dari tiga buah lempengan batu, dua diantaranya ditanam dalam tanah
untuk menyangga lempengan batu diatasnya. Masing – masing batu mempunyai
dimensi dan ukuran yang berbeda – beda. Ada kemungkinan kedua batu penyangga
tersebut, tingginya kira-kira lebih dari satu meter. Hal ini mengingat bahwa
kedua batu penyangga tadi terkubur di dalam tanah. Akan tetapi jika dilihat
dari permukaan tanah kedua batu penyangga mempunyai bentuk dan ukuran yang
berbeda-beda. Batu B mempunyai ukuran panjang 33Cm, lebar 34Cm dan tebal 23Cm,
sedangkan batu C mempunyai ukuran
panjang 21Cm, lebar 26Cm, tebal 6Cm. Namum pada ada batu A yang terletak diatas
permukaan tanah, mempunyai ukuran pajang64Cm, lebar 34Cm, tebal 5Cm, sehingga
dapat dilihat dengan jelas. Batu yang digunakan untuk membuat bangunan ‘’watu
tumpang ‘’ yaitu berupa batu kali.
Adapun kegunaan batu tumpang tersebut
yaitu untuk meletekkan sesaji yang akan dipersembahkan pada arwah nenek moyang
atau kekuatan-kekuatan gaib lainnya. Tetapi pada bangunan tersebut belum diberi
hiasan sama sekali, hal ini menunjukkan bahwa manusia purba belum mengenal
seni.
Di tempat lain juga terdapat
peninggalan jaman kebudayaan batu besar yang letaknya sekitar lima ratus meter
dari batu tumpang, kearah utara, tepatnya ditepi sungai Klawing. Sehingga masih
berhubungan dengan bangunan batu menhir didukuh Mujan dan bangunan punden
berundak didukuh Watu Tumpang, desa Banjarsari. Bangunan batu besar yang
terletak di Rt 03 Rw 03 desa Dagan, terbuat dari lempengan batu kali berukuran
besar dan lebar oleh penduduk setempat disebut “ Watu Ngadeg “
artinya batu berdiri.
“Watu Ngadeg” atau batu
berdiri merupakan satu bangunan
tersendiri, tanpa bangunan – bangunan lain disekitarnya. Ada kemungkinan
bangunan ini merupakan dolmen berukuran besar yang digunakan sebagai tempat
untuk meletakkan sesaji. Hal ini mengingat bahwa bangunan tersebut letaknya
sejajar dengan punden berundak di dukuh Watu Tumpang, desa Banjarsari.
Sedangkan dimensi bangunan watu
ngadeg ini berbentuk lonjong dan pipih. Di lihat dari permukaan tanah
bangunan ini mempunyai ukuran sebagai berikut; tinggi 225Cm, lebar 150Cm, tebal
56Cm. Akan tetapi pada permukaan bangunan batu ini sama sekali belum diberi
hiasan berupa ukiran.
Karena pada sisi sebelah kanan dibangun
saluran irigasi oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, pada tahun 1883 M,
maka bangunan tersebut kemudian diletakkan pada tepi saluran irigasi dan
ditanam dalam tanah dengan posisi berdiri. Sehingga sampai sekarang bangunan
batu berdiri masih tetap dijaga kelestarianya oleh penduduk setempat.
BATU MENHIR DUKUH MUJAN
Dukuh Mujan merupakan daerah
perbukitan yang letaknya diantara pertemuan sungai Klawing dengan sungai
Lokrang. Meskipun demikian pada 40.000
tahun yang lalu sudah ditempati oleh manusia keturunan bangsa Proto Melayu ras
Austronesia yang berasimilasi dengan ras Austro-Melanesoid. Keturunan inilah
yang kemudian menjadi berbagai suku bangsa yang menyebar diseluruh Indonesia.
Oleh karena itu dalam persebarannya mereka membawa hasil-hasil kebudayaan batu
besar yang berkembang sejak kebudayaan muda atau neolithicum sampai pada jaman
kebudayaan logam. Bukan hanya itu saja, dalam persebarannya mereka juga telah
mengembangkan sistim kepercayaan animisme dan dinamisme.
Pada perkembangan lebih lanjut,
mereka membuat bangunan-bangunan megalithik yang bertujuan untuk menghormati
dan menyembah arwah nenek moyang. Adapun bentuk bangunan megalithik yang
terdapat di dukuh Mujan berupa menhir.
Menhir yang mereka bangun bentuknya semacam tugu terbuat dari lempengan batu
utuh. Lempengan batu ini kemudian sebagian ditanam di dalam tanah, sedangkan
sisanya ada di atas permukaan tanah. Bangunan ini digunakan untuk mengikat
hewan kurban pada saat melakukan upacara
pemujaan terhadap arwah nenek moyang.
Hal ini sangat mungkin, karena batu menhir tersebut ditanam berjajar.
Tetapi apabila dibandingkan dengan batu menhir yang ditemukan di Sumatera,
Sulawesi Tengah dan Kalimantan sudah diberi ukiran semacam kepala manusia.
Namun keberadaan batu menhir yang terdapat di dukuh Mujan terbuat dari lempengan
batu kali ( batu granit ) yang sangat keras, sehingga sangat sulit untuk
diukir.
Dengan perbandingan semacam itu,
menunjukkan bahwa manusia purba yang pernah menempati dukuh Mujan belum
mengenal seni pahat atau relief. Hal ini terbukti dari bangunan batu menhir
yang masih polos dan belum sedikitpun mendapat sentuhan seni. Sehingga
batu menhir yang mereka dirikan sangat mungkin merupakan bangunan batu
besar yang lebih tua usianya, jika dibandingkan dengan yang ditemukan pada
daerah-daerah lain di Indonesia.
Maka jika ditinjau dari pendapat para
ahli arkheologi, peninggalan tersebut mulai berkembang pada jaman kebudayaan
batu madya. Karena pada jaman ini manusia purba sudah mulai mengenal sistim
kepercayaan, seni lukis, meskipun bentuknya masih sederhana, sedangkan bentuk
seni yang lain seperti relief belum dikenal. Oleh karena itu mereka hanya
memanfaatkan batu yang pada sisi sebelahnya sudah rata.
Menurut keterangan dari penduduk setempat sisa
bangunan tersebut jumlahnya ada lima buah, tetapi yang berhasil ditemukan
kembali hanya empat buah, sedangkan yang satu buah lagi tidak dapat ditemukan.
Selain itu, dari hasil ekskavasi juga ditemukan
benda-benda lain, seperti gelang, gelas dan gamparan semacam alas kaki. Benda –
benda tersebut merupakan perhiasan dan terbuat dari batu chalsedon yang sangat
indah warnannya.
Setelah diadakan penggalian oleh para arkheolog dari Universitas Gajah
Mada, Jogjakarta, tahun 1980, maka bangunan tersebut dikembalikan ketempat semula, meskipun tidak menjadi satu lokasi.
Sedangkan pemeliharaan dan perawatan bangunan tersebut sampai sekarang masih
dibawah tanggung jawab Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, serta dilindungi oleh
Undang-Undang Nomor 5, tahun 1992.
Senin, 20 Februari 2012
2. Jejak sejarah di dalam folklor, mitologi, legenda, upacara, dan nyanyian rakyat di berbagai daerah
a. Folklor
Pengertian
folklor secara etimologi berasal dari kata folk dan lore. Folk artinya kolektif
atau bersama-sama. Sedangkan lore menunjukkan pada proses tradisi pewarisan
kebudayaan secara turun-temurun. Folklor berkembang pada masyarakat yang
memiliki kesamaan cita-cita, ciri-ciri fisik, sosial dan budaya. Jadi folklore
lebih menunjukkan pada kesamaan identitas dalam suatu kelompok untuk
membedakannya dengan kelompok yang lain.
Menurut
James Danandjaja, folklor adalah suatu kebudayaan suatu masyarakat yang
diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk lisan, gerak isyarat dan alat
bantu pengingat (mnemonic device). Folklor merupakan sebagian dari unsur
kebudayaan yang penyebarannya dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut atau
dengan cara-cara lain. Sehingga folklor terdiri atas floklor lisan dan bukan
lisan.
Sebagai
tradisi lisan, folklor berkembang sejak masyarakat prasejarah atau praaksara
sampai sekarang. Dengan demikian tradisi lisan merupakan unsur dari folklor itu
sendiri, sedangkan cakupan folklor lebih luas jika dibandingkan dengan tradisi
lisan. Sehingga antara jenis folklor dengan tradisi lisan memiliki perbedaan,
sebagai berikut :
1. Floklor mencakup semua tradisi lisan,
tari-tarian rakyat dan nyanyian rakyat.
2. Tradisi lisan terdiri dari cerita rakyat,
teka-teki rakyat, peribahasa rakyat dan nyanyian rakyat.
Bagi
sekelompok masyarakat yang memiliki kesamaan identitas, folklor memiliki fungsi
sebagai berikut :
1. sebagai
sistim proyeksi untuk mencerminkan angan-angan suatu kelompok tertentu.
2. sebagai
alat untuk mengesyahkan pranata-pranata sosial dan lembaga-lembaga kebudayaan.
3. sebagai
alat pendidikan terhadap anak-anak dalam menerima pewarisan kebudayaan.
4. sebagai
alat pemaksa terhadap norma-norma sosial agar dipatuhi oleh warga atau anggota
kelompok.
b. Mitologi
Mitologi
adalah ilmu tentang kesusastraan yang mengandung konsep tentang hubungan antara
proses penciptaan alam semesta dan manusia oleh para dewa serta hubungannya
dengan arwah para leluhur atau pahlawan pada suatu bangsa. Cerita yang terdapat
dalam mitologi disampaikan dalam bentuk prosa dengan mengambil tokoh para dewa
atau manusia setengah dewa, yang dianggap benar-benar telah terjadi.
Karena
cerita dalam mitologi lebih banyak mengandung unsur magis dan keajaiban, maka
didalam menginterpretasikan peristiwa-peristiwa sangat jauh dari fakta-fakta
sejarah. Dimana peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam mitologi baik yang
berhubungan dengan nama tempat, nama tokoh serta tema merupakan hasil imajinasi
dari pembuat cerita. Sedangkan cerita yang terkandung dalam mitologi itu
sendiri adalah mengenaui uraian-uraian filsafat dengan menggunakan
lambang-lambang tertentu, misalnya dewa, roh suci, manusia setengah dewa,
binatang suci dan sebagainya.
Berdasarkan
asal-usulnya, adanya dua macam mitologi yang tersebar dalam masyarakat
Indonesia. Mitologi asli Indonesia biasanya mengisahkan tentang terjadinya alam
semesta, susunan para dewa, dunia kedewataan, terjadinya manusia pertama, tokoh
pembawa kebudayaan dan terjadinya bahan makanan pokok, seperti beras. Contohnya
adalah cerita tentang Dewi Sri sebagai keturunan para dewa yang menjelma dibumi
menjadi padi. Nyai Roro Kidul yang dihubungkan dengan kerajaan Mataram Islam,
Joko Tarub yang beristrikan seorang bidadari.
c. Legenda
Legenda
adalah cerita rakyat pada jaman dahulu yang masih memiliki hubungan dengan
peristiwa-peristiwa sejarah serta dikisahkan dalam bentuk prosa. Selain
bersifat keduniawian (sekuler), legenda juga bersifat migratoris artinya sering
berpindah-pindah tempat, sehingga dapat dikenal luas pada setiap daerah. Adapun
cerita-cerita yang terdapat didalam legenda pada umumnya berisi tentang petuah
atau nasehat mengenai sifat dan kerakter manusia yang berhubungan dengan
kebaikan dan kejahatan. Sehingga petuah-petuah yang terdapat didalam legenda
perlu diwariskan pada generasi penerusnya agar dapat dijadikan pedoman.
Peristiwa-peristiwa
yang terdapat dalam cerita legenda dianggap benar-benar telah terjadi, sehingga
merupakan sejarah kolektif yang tidak tertulis. Apabila cerita tersebut akan
diangkat untuk merekonstruksi sejarah, maka bagian-bagian legenda yang
mengandung unsur folk dan pralogis harus dibersihkan terlebih dahulu.
Legenda
terdapat pada setiap kebudayaan, bahkan jumlahnya lebih banyak jika dibanding
dengan mitologi. Karena cerita yang terdapat pada legenda itu sendiri
berhubungan dengan adat-istiadat, kepercayaan setempat, cerita kepahlawanan dan
yang terjadi pada suatu daerah tertentu. Oleh karena itu sekelompok masyarakat
yang menjadi pendukung kebudayaan memiliki legenda tersendiri. Sebagai contoh
legenda Sangkuriang yang memiliki hubungan erat dengan terbentuknya gunung
Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Pada setiap daerah memiliki legenda-legenda
tersendiri, seperti Legenda Ken Arok, Legenda Panji, Legenda Nyi Rara Kidul,
Legenda Sangkuriang, Legenda Wali Songo, Legenda si Malin Kundang, Legenda si
Pitung dan Legenda Sarif Tambakyoso.
d. Upacara
Upacara
adalah rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan
tertentu berdasarkan adat-istiadat, agama atau kepercayaan. Melalui upacara
tersebut manusia dapat mengetahui dan menemukan kembali asal-usulnya, sehingga
dapat menyadari akan arti kehidupannya, baik bagi dirinya, orang lain, bangsa
dan agama. Karena dalam setiap upacara mengandung nilai-nilai sakral maupun
moral yang dapat membentuk tingkah laku atau perbuatan yang labih baik. Adapun
jenis-jenis upacara tradisional antara lain seperti upacara penguburan, upacara
pengukuhan kepala suku, upacara sebelum berperang dan sebagainya.
Tradisi
upacara mulai berkembang sejak jaman prasejarah yaitu setelah manusia purba
sudah mulai mengenal sistim kepercayaan animisme, dinamisme dan monotheisme.
Tradisi upacara yang dilakukan adalah untuk mengenang peristiwa-peristiwa yang
telah terjadi, seperti bencana alam, wabah penyakit (pageblug), peristiwa
kematian yang dihubungkan dengan adanya kekuatan-kekuatan magis. Karena
kekuatan-kekuatan magis, seperti dewa, arwah nenek moyang dan roh halus dapat
dimintai pertolongan untuk membantu mengatasi berbagai peristiwa yang dapat
membahayakan manusia. Oleh karena itu manusia mulai mengadakan upacara-upacara
ritual sesuai adatnya masing-masing untuk menghormati kekuatan-kekuatan magis
tersebut.
e. Nyanyian
Rakyat
Menurut
Jan Harold Brunvand nyanyian rakyat adalah suatu genre atau bentuk folklore
yang terdiri dari teks dan lagu yang
beredar secara lisan diantara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional
dan mempunyai banyak variasi (varian). Ada beberapa perbedaan antara nyanyian
rakyat dengan nyanyian pop dan klasik, sebagai berikut :
1. Bentuk
dan isi yang terdapat pada nyanyian rakyat dapat dengan mudah berubah-ubah.
2. Nyanyian
rakyat lebih abadi atau berumur panjang daripada nyanyian pop dan klasik.
3. Merupakan
tradisi lisan yang penyebarannya dapat dilakukan secara lisan sehingga banyak
memiliki variasi-variasi.
Nyanyian
rakyat ada yang bersifat sesungguhnya dan ada yang tidak sesungguhnya. Nyanyian
rakyat sesungguhnya yaitu antara lirik dan lagu sama-sama kuat, sedangkan yang
tidak sesungguhnya antara lirik dan lagu biasanya lagunya yang menonjol atau
sebaliknya. Sedangkan teks dan lagu pada nyanyian rakyat merupakan satu
kesatuan yang utuh dan terpadu. Sehingga teks biasanya dinyanyikan tidak harus
dengan lagu yang sama, sebaliknya lagu yang sama dapat digunakan untuk
menyanyikan teks yang berbeda.
Sedangkan
isi yang terdapat pada nyanyian rakyat dapat menggambarkan seluruh kondisi
sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat. Karena isi dari nyanyian rakyat
merupakan ajaran-ajaran moral dan budaya yang meliputi keadaan geografis,
peristiwa sejarah, mitos, legenda, keagamaan, pendidikan, cara bercocok tanam
dan mengolah tanah. Jenis-jenis nyanyian rakyat dapat dibedakan menurut
kegunaannya, yaitu :
1. Nyanyian rakyat aba-aba digunakan untuk
menggugah semangat gotong royong masyarakat. Contohnya aba-aba nyanyian rakyat
dari Jawa Timur holobis kuntul baris, dari Sulawesi
Selatan yaitu rambate rasa hayo.
2. Nyanyian
rakyat permainan yang digunakan untuk mengiringi anak-anak yang sedang bermain
berbaris. Contohnya nyanyian permainan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu baris
terik tempe, ridong udele bodong (berbaris seperti lauk dari tempe,
Ridong pusarnya menonjol).
Berdasarkan
isinya nyanyian rakyat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, antara lain :
1. Nyanyian
rakyat untuk permainan anak-anak.
2. Nyanyian
rakyat umum.
3. Nyanyian
rakyat Kerohanian.
3. Tradisi
Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Aksara
Tradisi merupakan
bagian dari kebudayaan yang telah dikembangkan oleh masyarakat sebagai pendukungnya.
Berkembangnya tradisi sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia dalam
usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari usaha tersebut maka manusia mulai
berusaha untuk membuat peralatan-peralatan yang digunakan untuk membantu
keterbatasan fisiknya. Dari kejadian
atau peristiwa yang pernah dialami maka manusia memperoleh pengalaman yang
berharga. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian mereka tuangkan dalam bentuk
tradisi agar dapat dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Sebagai contoh adalah tradisi
kebudayaan batu pada masyarakat prasejarah atau praaksara, mereka membuat kapak
perimbas, kapak lonjong dan sebagainya. Peralatan-peralatan dari batu tersebut
kemudian digunakan untuk membantu keterbatasan fisiknya dalam memenuhi
kebutuhan makan dengan cara berburu dan meramu.
Kemudian
tradisi-tradisi mengalami perkembangan labih lanjut sejalan dengan kemajuan
tingkat berpikir manusia. Perkembangan tingkat berfikir manusia merupakan hasil
proses adaptasi dengan lingkungan alam, sosial dan budaya. Dengan demikian
unsur-unsur kebudayaan yang datangnya dari luar ikut berperanan dalam proses
perkembangan tradisi kebudayaan.
Unsur kebudayaan
asing yang ikut berpengaruh terhadap terjadinya perubahan-perubahan di
Indonesia adalah kebudyaan India
yang bercorak Hindu-Budha. Masuknya unsur kebudayaan India
ini diawali dengan terjadinya hubungan dagang antara India
dengan Cina yang melalui perairan Indonesia. Akan tetapi pengaruh
kebudayaan Indialah yang lebih besar terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia.
Hal ini dapat dilihat pada daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh
kebudayaan India,
seperti berikut :
a. Daerah-daerah
yang dipengaruhi unsur Budha di Indonesia.
Pada abad VII –
IX pengaruh unsur agama Budha menyebar ke wilayah Indonesia seperti Sempaga
(Sulawesi Selatan), Jember (Jawa Timur), Bukit Siguntang (Sumatra Selatan),
Kota Bangun (Kutai, Kalimantan Timur).
b. Daerah-daerah yang dipengaruhi unsur Hindu di
Indonesia.
Daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh agama
Hindu antara lain adalah Kutai (Kalimantan Timur), Tarumanegara (Jawa Barat),
kemudian menyebar ke Ho-Ling, Mataram Kuno, Kanjuruhan, (Jawa Tengah), Kediri, Singasari, Majapahit ( Jawa Timur),
Sunda (Jawa Barat) dan Bali.
Pada perkembangan lebih lanjut terjadi proses akulturasi
dan asimilasi antar unsur kebudayaan asli Indonesia
dengan unsur kebudayaan India.
Dengan terjadinya proses yang demikian, maka membawa perubahan-perubahan besar
terhadap kebudayaan Indonesia
dalam berbagai bidang kehidupan. Sedangkan bidang-bidang kebudayaan antara lain
sebagai berikut :
a.
Seni Bangunan atau Arsitektur
Sejak masuknya pengaruh
kebudayaan India, maka di Indonesia
berkembanglah tradisi seni bangunan yang sebenarnya telah dimiliki oleh manusia
prasejarah atau praaksara. Namun dalam perkembangan ini terjadi akulturasi
antara kebudayaan asli Indonesia
yaitu punden berundak-undak yang digunakan untuk membuat bangunan candi.
Sedangkan unsur kebudayaan pada bangunan
candi yang lain adalah stupa, lingga dan yoni, yang hampir mirip dengan menhir
dari kebudayaan megalithikum.
a.
Kesenian
Unsur kebudayaan India yang kemudian berkembang lagi di Indonesia
adalah kesenian, terutama relief dan patung yang digunakan untuk menghiasi
bangunan-bangunan candi. Hiasan relief yang diukir pada bongkahan batu
menandakan masih dipertahankannya kubudayaan megalithikum. Sedangkan pada sisi
lain ragam hias tersebut menggambarkan seluruh aspek kehidupan yang berhubungan
dengan lingkungan alam, sosial, budaya dan religius.
Selain aspek-aspek kehidupan yang digambarkan
melalui relief, aspek kehidupan manusiapun digambarkan pula dalam bentuk
patung. Sehingga bentuk gambaran kehidupan baik melalui relief dan patung tidak
hanya mengandung makna yang bersifat religius saja, tetapi yang lebih penting
adalah hubungan manusia dengan lingkungan alam. Dari perpaduan relief dan
patung menunjukkan bahwa antara manusia dengan alam terdapat saling
ketergantungan.
a.
Kepercayaan atau Agama
Dalam masyarkat prasejarah atau
praaksara di Indonesia
telah dikembangkan suatu sistim kepercayaan animisme dan dinamisme. Tetapi
setelah pengaruh kebudayaan India
masuk ke Indonesia,
masyarakat prasejarah atau praaksara mulai mengenal agama Hindu dan Budha.
Meskipun telah menganut agama Hindu dan Budha, namun tidak meninggalkan
kepercayaan animisme dan dinamisme.
Arca atau patung
merupakan wujud akulturasi kepercayaan terhadap arwah leluhur dengan agama
Hindu maupun Budha. Sehingga pada saat itu terdapat tradisi yang mendewakan
atau kultusindividu terhadap seorang raja sebagai keturunan dewa.
Contohnya arca perwujudan raja Anusapati
sebagai Siwa pada candi Kidal, arca perwujudan raja Rajasa pada candi
Kagenengan, arca perwujudan raja Wisnuwardhana sebagai Budha pada candi
Tumpang, arca perwujudan raja Airlangga sebagai Wisnu yang sedang naik garuda
dan sebagainya.
a.
Bahasa dan Tulisan
Unsur kebudayaan India yang dapat membawa perubahan terhadap
kehidupan bangsa Indonesia
adalah bahasa dan tulisan.
Dimana ketika bangsa
Indonesia mulai mengenal tulisan huruf
Pallawa dan bahasa Sansekerta, maka sejak saat itulah sudah mulai
memasuki jaman sejarah. Dari bahasa dan tulisan bangsa Indonesia sudah dapat meninggalkan
tradisi-tradisinya secara tertulis
Adapun
tradisi-tradisi tertulis yang pernah ditinggalkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia
antara lain adalah :
1. Prasasti
Prasasti merupakan tradisi tulisan yang paling tua
dalam sejarah Indonesia,
karena pada saat itu terjadi peralihan antara jaman prasejarah menuju jaman
sejarah. Tradisi ini berkembang dengan masih bertahannya kebudayaan
megalithikum, khususnya menhir. Sehingga oleh bangsa Indonesia bangunan-bangunan batu
menhir digunakan sebagai media untuk menulis huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.
Selain mengenal bahasa dan tulisan,
tradisi prasasti merupakan upaya dari nenek moyang untuk mewariskan
pengalaman-pengalaman hidupnya. Dari tradisi prasasti terdapat informasi
mengenai kehidupan sosial masyarakat prasejarah yaitu suku-suku terasing dan
tertutup, berkembang manjadi masyarakat terbuka yang siap menerima pengaruh
asing untuk berkembang kearah yang lebih maju. Perubahan tersebut terjadi pada
susunan tata organisasi sosial yang semula bersifat kesukuan menjadi organisasi
masyarakat yang bercorak kerajaan.
1.
Karya Sastra
Dengan
berkembangnya bahasa Sansekerta dan tulisan huruf Pallawa, berpengaruh pula
pada tradisi penulisan karya-karya sastra. Berhubung pengaruh Hindu-Budha pada
saat itu sangat kuat, maka tradisi kesusastraanpun bercorak Hindu-Budha pula.
Tradisi kesusastraan di Indonesia
berbentuk prosa dan puisi yang isinya mengenai keagamaan, cerita kepahlawanan,
dan kitab undang-undang atau hukum. Perkembangan kesusastraan dimulai pada abad
ke IX-X Masehi pada masa kerajaan Mataram Kuno dan Kediri. Ketika memasuki periode awal
Majapahit berkembang karya sastra tembang disebut kakawin. Sedangkan pada
periode Majapahit pertengahan, irama kakawin digeser menjadi irama kidung.
Pada
tabel berikut merupakan karya sastra yang berpengaruh Hindu-Budha.
Langganan:
Postingan (Atom)





