Kamis, 09 Februari 2012

DAI TOO-A SENSHOO = PERANG ASIA TIMUR RAYA



A.      Jepang menempatkan pasukannya di pulau Saipan, Tinian dan Guam
Pada masa Perang Dunia II, kepulauan Mariana yang terletak ditengah-tengah samudra Pasifik mempunyai peranan yang sangat penting bagi strategi kemiliteran. Kepuluan Mariana kira-kira memiliki 15 buah pulau kecil, tetapi terdapat 3 buah pulau besar seprti Saipan, Tinian dan Guam. Pada abad ke -15 kepulaun Mariana ditemukan dan dikuasai oleh bangsa Spanyol. Tetapi setelah Perang Dunia I berakhir, kepulaun tersebut oleh Liga Bangsa-Bangsa diserahkan pengawasannya pada Jepang. Ketika sedang berlangsung Perang Dunia II (1939-1945), kepulauan tersebut direbut kembali oleh Jepang agar dapat membangun pangkalan ANgkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Dengan menguasai pulau  Saipan, Tinian dan Guam, maka Jepang dapat mengendalikan kegiatan militernya dibenua Asia dari ancaman tentara Sekutu.
Untuk memperkuat pertahanan di pulau Saipan, Tinian dan Guam, pada bulan Februari 1944 pihak pemerintah Jepang mengerahkan 30.000-an orang tentara yang dilengkapi dengan 48 buah tank dan senjata berat. Hal ini perlu dilakukan oleh Jepang agar dapat menghadapi ancaman militer dari pihak Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika. Selain itu, Angkatan Laut Jepang yang berkududukan di pulau Saipan mendapat dukungan dari Angkatan Udaranya yang berpangkalan di Filipina yaitu pulau Luzon dan Leyte. Di Filipina Angkata Udara Jepang memiliki 438 buah pesat tempur. Tetapi jumlahnya kalah besar jika dibandingkan dengan Angkatan Udara Amerika Serikat yang memiliki 891 buah pesawat tempur.
Karena Angkatan Udara Jepang dipulau Guam sudah hancur, maka pada awal bulan Agustus 1944 Amerika Serikat dengan mudah dapat mengalahkan Angkatan Laut Jepang yang berkedudukan di pulau Saipan. Sehingga 30.000-an orang tentara Jepang di pulau Saipan habis, karena gugur dalam pertempuran maupun yang bunuh diri (hara-kiri). Sementera itu , pulau Tinian juga dapat direbut oleh Amerika Serikat, tetapi selama 1,5 tahun pasukan Jepang masih mengadakan perang gerilya samapai 18.500 tentaranya habis, baik karena gugur maupun menyerah menjadi tawanan.
Setelah pulau Saipan, Tinian dan Guam dapat direbut dan dikuasai oleh tentara Amerika Serikat, akibatnya Perdana Meteri Jepang yaitu Jendral Hideki Tojo menyerahkan kekuasaan pemerintahannya pada Jendral Kunaiki Kaiso. Sebulum menjabat sebagai Perdana Meteri, Jendral Kuaniki Kaiso pada mulanya menjabat sebagai Gubernur Militer di Taiwan (kepulauan Formosa). Melalui perantaraan Duta Besar Swedia yang berkedudukan di Tokyo, akhirnya pemerintah Jepang minta perundingan damai dengan pihak Sekutu. Sekutu mau berdamaia, asalkan pemerintah Jepang mau menyerah tanpa syarat.
B.      Amerika merebut pulau Saipan, Tinian dan Guam dari Jepang
Untuk mengalahkan tentara Jepang baik dalam Perang Dunia II maupun Perang Asia Timur Raya, pihak Amerika Serikat berusaha untuk merebut pulau Saipan, Tinian dan Guam dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara bala tentara Jepang.
Laksamana Nimitz bersama Laksamana Mare Mitcher memimpin operasi militer Angkatan Laut Amerika Serikat guna merebut tiga pulau di Mariana. Dengan menguasai pulau Siapan, Tinia dan Guam, maka pihak Amerika Serikat dapat membangunan pangkalan Angkatan Laut dan pangkalan Angkatan Udaranya. Karena jarak antara pulau Saipan, Tinian dan Guam dengan Jepang sudah dekat, sehingga Angkatan Udaranya dapat mengadakan serangan udara terhadap pasukan Jepang menggunakan pesawat bomber jenis B-29. Selain itu, pasukan Amerika juga berusaha untuk merebut pangkalan Angkatan Laut dan Angkatan Udara tentara Jepang yang berkedudukan di pulau Lozon dan Leyte di Filipina serta kepulauan Formosa di Taiwan.
Sasaran pertama Angkatan Laut Amerika Serikat yang dipimpin oleh Laksamana Mare Mitcher yaitu menyerang dan menguasai pulau Saipan dari tentara Jepang. Sehingga pada awal bulan Juni 1944 Angkatan Udara Amerika Serikat mendaratkan 20.000-an orang pasukan. Tetapi pada pertempuran malam hari selama 8 jam, pihak Amerika Serikat sudah kehilangan 200-an orang tentara. Hal ini dapat terjadi, karena ada perlawan terus menerus dari pihak tentara Jepang yang berusaha untuk mempertahankan pulau Saipan. Pertempuran yang baru selesai pada jam 6 pagi menimbulkan korban jiwa sejumlah 700-an orang tentara baik dari kedua belah pihak. Meskipun harus menghadapi serangan-serangan kecil dan berbagai macam gangguan dari tentara Jepang, akhirnya pada awal bulan Agustus 1944 Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika Serikat dapat merebut pulau Saipan dari Jepang.
Tentara Amerika Serikat mengetahui bahwa Jepang sedang memperkuat pasukannya di pulau Luzon dan pulau Leyte di Filipina yang dipimpin oleh Laksamana Ozawa. Sehingga pihak Angaktan Udara Amerika Serikat yaitu Task Force mengerahkan 891 buah pesawat tempur untuk menandingi kekuatan Angkatan Udara Jepang yang didukung oleh 430 buah pesawat tempur. Untuk itulah, maka pihak Amerika Serikat menghancurkan Angkatan Udara Jepang di Filipina agar tidak dapat membantu pasukan Angkatan Lautnya di pulau Saipan. Karena pasukan Angkatan Laut Jepang sudah kehilangan dukungan Angkatan Udara, maka dengan mudah Angkatan Laut Amerika yang dipimpin oleh Laksamana Mare Mitcher dapat merebut dan menguasai pulau Guam dari Jepang.
C.      Pulau-pulau wilayah asli Jepang terancam oleh Tentara Sekutu
Dengan dikuasainya kepulauan Mariana seperti ; Sipan, Tinian dan Guam, maka Amerika Serikat dapat membanguna pangkalan udaranya sebagai tempat pendaratan pesawat tempur bomber jenis B-29. Pesawat tempur tersebut besar dapt membawa bom serta memerlukan lapangan terbang yang luas, dekat dengan sasaran dan tidak kawatir kehabisan bahan bakar. Karena pulau-pulau tersebut tidak jauh dari wilayah asli Jepang, sehingga pasukat Angkatan Udara Amerika Serikat dapat dengan mudah menjatuhkan bom.
Sementara itu Sekutu juga sudah berhasil menyelesaikan perang diwilayah benua Eropa seperti di Italia dan Jerman. Dengan demikian Sekutu dapat berkonsentrasi untuk menghancurkan kekuatan militer Jepang.Gerakan pasukan Sekutu juga berhasil merebut Papau sebelah utara, Tarakan, Balikpapan, Morotai dan sekitarnya dari kekuasaan Jepang. Setelah serang diteluk Mutiara, pihak Amerika Serikat memerintahkan serangan kapal selam tak terbatas terhadap kapal musuh baik kapal perang, kapal barang maupun kapal penumpang. Hal ini dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai balas dendam terhadap serangan kapal selam Jerman terhadap kapal-kapal Sekutu pada pertempuran di teluk Mutiara.
Setelah berhasil merebut Filipina, tentara Sekutu ingin merebut pulau Kiusyhiu dan Honsyu. Oleh karena itu pihak Sekutu mengerahkan pasukan Angkatan Darat yang dipimpin oleh Jendral Douglas Mac Arthur, Angkatan Laut dipimpin oleh Laksamana Chester W. Nimitz. Mulai bulan Agustus 1944 pasukan Amerika mejatuhkan bom diwilayah Iwojima yang berada ditengah-tengah pulau Honshu dan kepulauan Mariana. Serangan tentara Amerika tidak hanya dilakukan dari udara saja, tetapi juga melakukan penyerangan melalui laut. Pihak Sekutu memperkirakan dapat merebut pulau Iwojima hanya selama beberapa hari saja, tapi pada kenyataannya pertahanan Jepang dipulau itu sangat kuat, tidak dapat dilihat dari udara maupun dari laut. Maka sebelum diadakan serangan lebih lanjut, pihak Amerika mengirimkan mata-mata supaya pihak Jepang mengira bahwa serangan sudah dimulai. Ternyata siasat ini dapat berhasil mengetahui meriam-meriam Jepang yang pada mulanya disembunyikan dan dirahasiakan. Sehingga ketika pihak Amerika mendaratkan pasukan sejumlah 30.000 orang tentara dapat mengurangi jumlah korban yaitu hanya 519 orang tewas dalam pertempuran. Setelah Iwojima berhasil direbut dalam tempo tiga bulan, kemudian pasukan Amerika mengibarkan bendera dipuncak gunung Suribashi yang tingganya hanya ratusan meter. Setelah Iwojima, pasukan Amerika mulai menyerang wilayah asli Jepang seperti pulau Riukiu dan Akinawa yang merupakan pintu gerbang masuk wilayah Nippon. Dari Iwojima angkata udara Amerika Serikat dapat menyerbi kota Tokyo pada waktu malam hari sering dijatuhi bom. Tentara Amerika pada jam 10 pagi dapat merebut lapangan terbang di Okinawa, kemudian markas besarnya Letnan Jendral Ushijima.
Guna menghadapi serbuan tentara Sekutu, maka pimpinan angkataran darat tentara Jepang yang dipimpin oleh Letnan Jendral Kuribayashi memperkuat pertahanan di Iwojima. Kemudian memerintahkan pada pasukannya agar membangun terowongan untuk menyembunyikan meriam disepanjang garis panta serta dijaga oleh 21.000 orang tentara. Perlawanan Jepang terhadap tentara Amerika dilakukan secara mendadak, perang gerilya dan pada ujung senjata pasukan berani mati Jepang dilengkapi bayonet yang siap merobek perut lawan. Karena tidak sanggup lagi mempertahankan Iwojima, maka Markas Tertinggi Tokyo memerintahkan supaya pasukannya dapat menghambat tentara Amerika Serikat. Hal ini bertujuan untuk menimbulkan banyak korban dan kerugian pada pihak musuh. Untuk menghadapi pasukan marinir Amerika yang dipimpin oleh Laksamana Muda Marc Mitcher, Jepang mengerahkan pasukan Kamikaze (pasukan berani mati), sehingga dapat menghancurkan dua kapal pengangkut milik musuh. Sehingga dalam pertempuran dua hari saja pasukan Kamikaze sudah dapat menghancurkan 1900 kapak musuh. Pihak Jepang juga mengerahkan pasukan darat guna menjaga pulau Okinawa yang dipimpin oleh Letnan Jendral Ushijima.
D.      Hubungan kekalahan Jepang pada Perang Asia Timur Raya dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia
Dalam pidatonya didepan sidang TEIKOKU GIKEI (Dewan Tertinggi Peperangan) yang ke 85, Perdana Manteri Jepang Jendral Kunaiki Kaiso menjelaskan bahwa setahun yang lalu penduduk Hindia Timur (sebutan Indonesia jaman penjajahan) diberi kesempatan untuk ikut serta dalam pemerintahan. Untuk menyelesaikan perang Asia Timur Raya supaya semua pada sadar akan tujuan dan maksud Dai Nippon dan dapat membuat senang pemerintah Kerajaan Jepang. Berhubungan dengan masalah tersebut, pada kesempatan ini diumumkan bhwa Dai Nippon memberi kesempatan pada bangsa Indonesia untuk merdeka dikemudian hari.
Pada pidato tersebut, pemerintah Jepang tidak menyebutkan bulan dan tahun yang pasti, tetapi menurut Koran Asia Raya hanya menyebutkan  “memperkenankan kemerdekaan kelak pada kemudian hari”. Pada waktu itu bertepatan dengan bulan September 1944 atau di Indonesia bertepatan dengan bulan Ramadan.
Sedangkan pada waktu sebelumnya dikalangan para pemimpin Jepang sudah bermusyawarah untuk memberikan kemerdekaan pada bangsa Indonesia. Tetapi masih ada pihak-pihak yang tidak setuju, karena masih ingin menjajah Indonesia. Ada pula yang menghendaki bahwa yang diberi kemerdekaan pulau Jawa dan Sumatera dulu, sedangkan pulau-pulau yang lain masih didalam pengawasan Angkatan Laut Jepang, tetapi kedudukannya tidak berubah (tetap sebagai daerah jajahan). Di pihak lain adanya yang menghendaki pulau Jawa dulu yang merdeka, kemudian secara perlahan-lahan menyusul pulau-pulau yang lain.
Hasil sidang  TEIKOKU GIKEI (Dewan Tertinggi Peperangan) ke 85 kemudian dikirimkan dari Tokyo pada panglima bala tentara Jepang Asia Tenggara yaitu Marsekal Terauchi yang berkedudukan di Shonanto (sekarang Singapura). Kemudian diteruskan ke Jakarta dan diterima oleh Saikko Shikikan. Berita keputusan tersebut oleh Saikko Shikikan disampaikan pada Ir. Soekarno, tetapi pada saat itu sedang bekerja sebagai romusha di Bogor. Setelah mendapat kontak dari Jepang, Ir. Soekarno segera pulang ke Jakarta, kemudian menghadap Saikko Shikikan untuk mengucapkan terima kasih telah diberi kemerdekaan (meskipun kelak pada kemudian hari).
Pada pidatonya Saikko Shikikan menyatakan bahwa “Dai Nippon Teikoku menganggap bahwa bangsa Indonesia sebagai saudara muda, mau membimbing dengan tulus ikhlas, diantaranya dengan member kesempatan dalam pemerintahan, memperkuat ekonomi, mengangkat derajat melalui pendidikan serta dengan cara-cara yang lain. Saya mengharapkan agar dihari yang bahagia ini seluruh penduduk supaya memperbaharui tekadnya, berjuang mati-matian dengan bekerja keras, serta memperkuat kekekuatannya agar dapat memenangkan peperangan. Supaya penduduk ditanah Jawa ini bersatu padu, bergabung menjadi satu mengadakan serangan umum, sehingga kita dapat memenangkan peperangan yang suci ini.”
Dalam pidato balasannya, Ir. Soekarno menyampaikan “Sebelum dijajah Belanda, kita sudah berdiri sebagai bangsa yang merdeka, bangsa yang dihormati, kuat, makmur. Kita semuanya merasa durhaka pada nenek moyang kita, dosa pada para pahlawan kita yang sudah gugur ketika melawan para penjajah, apabila kita sekarang tidak sungguh-sungguh mengambil kembali kemerdekaan, kekuatan, kemakmuran serta kehormatan bangsa.”
Sebenarnya Bung Karno, Bung Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo pernah menemui Perdana Menteri Jendral Hideki Tojo untuk menanyakan masalah kemerdekaan. Tetapi Perdana Meteri Jendral Hideki Tojo hanya menjawab bahwa pihak tidak mempunyai wewenang untuk membicarakan masalah kemerdekaan pada bangsa Indonesia. Sebelum tiga orang tokoh bangsa Indonesia itu datang ke Tokyo, sduah menyampaikan surat terlebih dahulu pada Perdana Meteri Jendral Hideki Tojo melalui Pimpinan Angkatan Laut Jepang di Jakarta yaitu Laksamana Maeda yang simpati terhadap gerakan nasional Indonesia. Tindakan tiga orang tokoh ini oleh pemimpin bala tentara Jepang Asia TImur yaitu Marsekal Terauchi dianggap tidak menyenangkan dan menyalahi prosedur, mendahului hierarkhi ketentaraan.
Pada acara pertemuan negara-negara Asia Timur, bangsa Indonesia yang memiliki jumlah penduduk 70 juta tidak diundang sebagai perserta apalagi sebagai penggembira. Namun yang membuat tiga tokoh bangsa Indonesia tersebut heran, negara-negara lain seperti Tiongkok Nasionalis, Birma, Filipina, Muangthai, Manchuria serta India diundang untuk menghadiri  pertemuan negara-negara Asia Timur.
Kemudian Chuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat) mengundang Bung Karno, Bung Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo untuk memberikan jawaban atas pertanyaan pada Saiko Shikikan yang berbunyi “ Bagaimana cara dan tindakan untuk membuktikan keihklasan serta rasa terimakasih pada bangsa Indonesia pada Pemerintah Agung Dai Nippon serta pada balatentara, serta bagaimana caranya membangun kemauan rakyat yang lebih hebat lagi dan mengobarkan semangat perjuangan untuk menghancurkan Inggris dan Amerika.” Keputusan sidang  Chuo-Sangi-In yaitu mengucarkan terima kasih pada Tenno Heika serta pemerintah pusat Dai Nippon serta balatentaranya yang sudah banyak berkorban untuk mendukung Perang Asia Timur Raya, bangsa Indonesia tetap sehidup semati dengan Nippon. Baik sebelum merdeka maupun sudah merdeka.”
Selanjutnya untuk mewujudkan pernyataannya pada pemerintah Jepang, para pemimpin bangsa Indonesia membentuk Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Bung Karno serta didampingi oleh Otto Iskandardinata, Raden Panji Suroso dan dr. Buntaran. Dengan demikian barisan pelopor ini dikuasai oleh kaum nasionalis bukan oleh orang Jepang. Sedangkan gerakannya semi militer, tetapi hanya terdapat dipulau Jawa saja, sedangkan dipulau-pulau yang lain belum ada. Sementara itu perang Asia TImur Raya semakin hebat, tentara Jepang sudah terdesak. Sekutu sudah dapat mendekati wilayah asli Jepang, tetapi bangsa Indonesia tambah sengsara.
Kira-kira 10 hari setelah pemerintah Jepang menyatakan akan memberi kemerdekaan, pihak Amerika dari udara menyebarkan selebaran diwilayah Jakarta, Bogor dan Surabaya. Isi selebaran tersebut berbunyi bahwa Van der Plas salah satu pejabat Belanda menyatakan bahwa Jepang sudah kalah perang, mengajak bangsa Indonesia  untuk membangun Indonesia baru. Anehnya dua minggu setelah penduduk di Jawa selesai mengadakan pestapenduduk diluar pulau Jawa sudah mendengar kabar kemerdekaan kelak pada kemudian hari tersebut.
E.       Hubungan kekalahan Jepang pada Perang Asia Timur Raya dengan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
Setelah Sekutu dapat merebut Saipan, Tinian, Guam, Solomon, Papua, Ambon, Makasar, Menado, Balikpapan dan Surabaya, Jepang merasa akan kalah perang. Untuk menjaga agar rakyat Indonesia yang dianggap masih tenang, tidak memberontak dan tetap setia, maka pemerintah Jepang segera membentuk Dokuritsu Zunbi Coosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) kemudian mengadakan sidang dibekas gedung Volksraad (setelah direbut oleh Jepang dari Belanda digunakan sebagai gedung Chuo Sangi Kai atau Dewan Pertimbangan Pusat). Pada sambutan pembukaan siding, dr. Radjiman Wedyodiningrat selaku ketua BPUPKI menyampaikan pertanyaan;”Apa yang menjadi dasar bagi Negara Indonesia yang akan dibentuk?” Di antara para anggota BPUPKI ada yang menjawab; demokrasi parlementer, demokrasi presidensiil seperti Amerika, Indonesia menjadi negara Islam, Indonesia bebas dari pengaruh agama dan negara kerajaan.
Pada sidang hari ketiga, tanggal 1 Juni 1945, Ir Soekarno mulai memberikan jawaban terhadap usul dan pendapat dari para anggota. Menurut keterangan Bung Hatta dalam “Mohammad Hatta Memoir” terbitan Tinta Mas, 1982, bahwa Ir. Soekarno berpidato panjang lebar selama 1 jam. Dalam pidatonya Ir. Soekarno menjelaskan bahwa kita tidak bisa membangun Negara dan bangsa atas dasar Deklarasi Kemerdekaan seperti Amerika Serikat, Manifesto Komunis seperti Uni Soviet. Kita tidak bisa meminjam falsafah hidup dari bangsa lain, seperti Tenno Heika Seishin yaitu Semangat Kedewaan Kaisar.
Selain itu, Ir. Soekarno juga menyampaikan lima dasar yang sangat tinggi nilai, seperti Nasionalisme, Internasionilme, Demokrasi, Keadilan Sosial dan ke-TUHAN-an Yang Maha Esa. Hebatnya, dalam pidato tersebut Ir. Soekarno tidak membaca teks dan sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut Dai Hippon, sehingga para pejabat Jepang yang hadir dalam sidang tersebut merasa kecewa dan tidak senang. Padahal, sebelum BPUPKI terbentuk, pada setiap pidato didepan para pejabat Jepang, Ir. Soekarno selalu menyebut-nyebut; Dai Nippon, tetap setia kepada Tenno Heika, mengajak sehidup semati dengan Dai Nippon.
 Setelah sidang selasai, kemudian dibentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang. Didalamnya terdapat wakil dari Islam, wakil dari Kristen dan wakil yang dianggap ahli konstitusi. Sedangkan tugas Panitia Sembilan adalah merumuskan dengan jelas dan singkat mengenai Dasar Negara. Menurut Ir. Soekarno Dasar Negara disebut PANCASILA. Dalam buku memoarnya, Drs. Mohammad Hatta menjelaskan urutan-urutan PANCASILA, sebagai berikut :
1.       Ke-TUHAN-an Yang Maha Esa, sila pertama ini merupakan penyatuan dari sila-sila seluruhnya yang berjumlah lima.
2.       Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3.       Persatuan Indonesia. Bertujuan untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa bangsa Indonesia tetap bersatu tidak mau dibagi-bagi.
4.       Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
5.       Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia.
F.       Bung Karno dan Bung Hatta di ungsikan oleh para pemuda ke Rengasdengklok
Tanggal 15 Agustus 1945 Ir. Soekarno, Drs Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat tiba kembali dilapangan terbang Kemayoran pulang dari Saigon. Tiga tokoh tersebut diundang oleh Panglima Angkatan Perang Jepang di Asia Selatan yaitu Marsekal Terauchi untuk memperoleh penjelasan “masalah kemerdekaan yang tergantung pada keputusan bangsa Indonesia sendiri.” Dilapangan terbang Kemayoran, tiga orang tokoh tersebut dijemput oleh para pejabat Jepang, selanjutnya diajak menghadap pada Gunseikan sebagai kepala pemerintahan dipulau Jawa. Disana mereka mendapat ucapan selamat serta diajak makan siang oleh Gunseikan.
Menurut keterangan Bung Hatta dalam “Mohammad Hatta Memoir” terbitan Tinta Mas, 1982, antara lain menyebutkan: Kira-kira jam loro awan sampai dirumahnya yang sekarang terletak di Jln Diponegoro. Disana sudah ada Sutan Syahrir yang sudah menunggu selama setengah jam, kemudian mengabarkan bahwa Jepang sudah minta damai. Terus bagaimana mengenai kemerdekaan bangsa kita ? Lebih baik Bung Karno saja yang mengumumkan kemerdekaan melalui radio. Kalau diumumkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan, akan dianggap kemerdekaan sebagai pemberian Jepang.
Karena Bung Hatta kaget dengan kabar dari Sutan Syahrir, kemudian mengajak pergi kerumahnya Bung Karno dijalan Pegangsaan Timur no. 56 Djakarta (sekarang menjadi Jl. Proklamasi). Ketiganya kemudian musyawarah bersama, Bung Karno sendiri sudah mendengar mengenai serangan pasukan Uni Soviet ke Monsyukuo yang menyebabkan Jepang mengajak berdamai. Bung Karno juga percaya mengenai kabar yang didengar oleh Sutan Syahrir dari radio Sekutu yang hanya mengumbar suara saja.
“Lebih baik sekarang aku dengan Bung Hatta mengecek lansung kekantor Gunseikanbu” begitu kata Bung Karno. Selanjutnya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Ahmad Subardjo menemui pimpinan Jepang dikantor Gunseikanbu. Tetapi kantor tersebut sudah kosong, yang ada hanya para penjaga. Sejak saat itu Bung Karno percaya dengan kabar dari Sutan Syahrir, sedangkan Mr. Ahmad Subardjo mengusulkan agar menemui Laksamana Maeda sebagai wakil Angkatan Laut pada daerah yang dikuasai oleh Angkatan Darat Jepang. Laksamana Maeda juga memberikan selamat mengenai kemerdekaan seperti yang telah disampaikan oleh Marsekal Terauchi. Tetapi ketika Bung Hatta minta keterangan mengenai menyerahnya Jepang, Laksamana Maeda tidak memberikan jawaban. Sehingga Bung Karno dan Bung Hatta, tanggap mengenai keadaan yang sesungguhnya.
Tiga orang tokoh tersebut kemudian pergi dari rumah Laksamana Maeda. Pada Bung Karno, Bung Hatta mengusulkan agar PPKI segera mengadakan siding pada tanggal 16 Agustus 1945. Kemudian Mr. Ahmad Subardjo disuruh agar mengundang para anggota PPKI dari luar Jawa supaya menginap di Hotel des Indes jam 10.00 pagi. Sedang rapat PPKI akan diselenggarakan di Kantor Sanyo Kaigi (dahulu gedung Volksraad) dan sekarang menjadi gedung Kementrian Luar Negeri.
Pada sore hari dirumah Bung Hatta ada dua orang tamu yaitu Soebandio Sastrosatomo dan Soebandio Djojohadikusumo yang menjelaskan bahwa Jepang sudah kalah perang. Pada waktu yang sama Mr. Ahmad Subardjo juga datang. Kedatangan Mr. Ahmad Subardjo untuk memberikan kabar bahwa Bung Karno sedang dikerumuni para pemuda yang memaksa agar kemerdekaan segera dikumandangkan. Tetapi diteolak keras oleh Bung Karno, sehingga para pemuda mengancam “Kalau Bung Karno ragu-ragu mengumandakan kemerdekaan pada malam in juga, maka pada besok pagi akan terjadi banjir darah. Mendengar ancaman para pemuda kemudian Bung Karno berkata “Ini leherku, kalau kamu mau membunuhku, putuskan. Tidak usah menunggu besok pagi!” Kemudian Wikana mundur dari hadapan Bung Karno.
Pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945, ketika Bung Hatta akan makan sahur, karena pada saat itu sedang bulan Romadhlon, para pemuda menemuinya dan menyampaikan bahwa rakyat bersama para mahasiswa pada jam 12.00 siang akan menyerbu Jakarta. Kemudian Bung Hatta menyakinkan para pemuda, meskipun sekarang Jepang sudah kalah, tetapi tentaranya dipulau Jawa masih utuh. Sebab dengan menyerang Jepang di Jakarta tidak berarti mengadakan revolusi, tetapi membuat huru-hara yang dapat merugikan revolusi itu sendiri.
Kemudian Sukarni bicara;”Bung, sudah menjadi kesepakatan para teman pemuda, Bung Karno supaya ikut kami dibawa ke Rengasdengklok.” Bung Hatta ingat bahwa besok PPKI akan mengadakan rapat untuk membicarakan masalah proklamasi. Akhirnya Bung Hatta menuruti permintaan Sukarni. Setelah menjemput Bung Karno, dengan naik mobil dengan dikawal para pemuda, kemudian pergi ke Rangasdengklok. Ibu Fatmawati beserta putranya Guntur yang masih berumur 9 bulan juga ikut serta dibawa ke Rengasdengklok.
Camat Rengasdengklok kaget, pada malam hari kedatangan para tokoh-tokoh bangsa bersama para pemuda. Kemudian Bung Karno menjelaskan “Di sini kita ditawan para pemuda yang katanya ingin mengadakan revolusi, menyerbu serta menangkap Jepang yang ada di tanah Jawa sini.” Mendengar perkataan Bung Karno, Pak Camat kemudian bilang “Apa ya bias ?”
Selanjutnya Bung Karno sekeluarga dan Bung Hatta ditempatkan dirumahnya keluarga Tionghoa yang tidak jauh dari asrama PETA. Tengah siang hari Sukarni lapor bahwa Mas Soetarjo Kartohadikoesoemo yang sedang memeriksa mengenai keadaan beras diwilayahnya ditahan. Bung Hatta menyuruh agar Mas Soetarjo Kartohadikoesoemo supaya kumpul bersama satu rumah.
Pada sore hari pada hari yang sama, Sukarni lapor bahwa Mr. Ahmad Subardjo baru saja datang dari Jakarta. Kemudian Mr. Ahmad Subardjo menyampaikan ; “Apa perlunya para sampai pemimpin dibawa kesini, sebab di Jakarta masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan? Jangan membuang-buang waktu disini, lebih baik pulang kembali ke Jakarta saja.”
Setelah pulang kembali ke Jakarta, setelah Mas Soetarjo Kartohadikoesoemo, Ibu Fatmawati dan Guntur, kemudian para tokoh-tokoh bangsa pergi kerumah Bung Hatta untuk mengatur acara rapat PPKI. Kemudian datang jurubahasa pemerintah Jepang yaitu Miyoshi bahwa Soekarno-Hatta pada mala mini juga harus bertemu dengan Mayor Jendral Nishimura selaku pejabat Urusan Umum Pemerintahan Dai Nippon. Hal itu terjadi kira-kira jam 10.00 malam hari.
G.     lllllllll
H.      Perjuangan Mengisi Kemerdekaan
1.       Pembentukan Organisasi Pemuda
Sudah menjadi kodrat dari Yang Maha Kuasa, bahwa terbentuknay Negara Kesatuan Republik Indonesia ini didukung oleh golongan pemuda yang diwakili oleh Soekarni, Wikana serta golongan tua yang diwakili oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.
Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terbentuk, golongan pemuda tetap berjuang, istilah ada waktu itu mengisi kemerdekaan. Para pemuda membentuk berbagai macam organisasi politik dan organisasi semi militer. Pusat organisasi pemuda dimulai dari Jl. Menteng Raya 31, Jakarta (sekarang menjadi museum perjuangan), kemudian menyebar kekota-kota lain. Sehingga pada masa awal kemerdekaan berdiri berbagai organisasi pemuda, seperti Pemuda Republik Indonesia, Pemuda Andalas, Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, Pemuda Indonesia Maluku, Ikatan Pemuda Kalimantan dan lain-lain. Dari kalangan pelajar juga membentuk organisasi, seperti Ikatan Pelajar Indonesia, Tentara Pelajar, Tentara Republik Indonesia Pelajar, Tentara Genie Pelajar dan Corp Mahasiswa. Sedangkan bagi pemuda yang berjuang melalui politik kemudian membentuk Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia, Pemuda Kristen Protestan Indonesia, Pemuda Katholik, Angkatan Comunis Muda dan lain=lain.
2.       Tentara Sekutu Masuk Indonesia
Mungkin karena sudah menjadi kehenkan TUHAN, bahwa datangnya pasukan Sekutu ke Indonesia terlambat. Setelah Jepang kalah perang, Kepala Staf Gabungan Pasukan Sekutu (Joint Chiefs of Staff) menugaskan pasukan Inggris untuk menjaga pulau Jawa dan Sumatera di Indonesia, jangan sampai terjadi perubahan. Sedangkan tugas lain pasukan Inggris di Indonesia adalah melucuti senjata tentara Jepang, mengeluarkan para tawanan (orang Belanda) dari kamp-kamp tentara Jepang.
Terlambatnya pasukan Inggris masuk ke Indonesia, karena kekurangan kapal pengangkut yang sudah rusak selama perang. Inggris kurang senang ditugaskan di Indonesia, karena bukan wilayah jajahannya. Tentara Inggris sedang istirahat dan ingin berkumpul bersama keluarga, setelah berhasil mengalahkan lawan. Karena keterlambatan tersebut, maks menjadi  kesempatan yang sangat baik bagi bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan, memilih presiden dan wakil presiden, membentuk kabinet, membentuk Badan Keamanan Rakyat, mengangkat gubernur.
Setengah bulan setelah Indonesia merdeka, tentara Inggris mendarat di Jawa, Sumatera, Medan, Padang, Jakarta Semarang dan Surabaya. Masuknya tentara Inggris menimbulkan perlawanan, karena minta agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata. Selin itu, masuknya tentara Inggris ke Indonesia diboncengi oleh pasukan NICA-Belanda. Setelah Belanda dikalahkan oleh Jepang, kemudian membentuk pemerintah pelarian di Australia, yaitu Netheland Indische Civil Administration. Karena sudah tidak memiliki apa-apa, Belanda mengikuti pasukan Inggris masuk ke Indonesia, sehingga menimbulkan kecurigaan bagi pihak Indonesia.Akibatnya timbul pertempuran di Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Ambarawa, Magelang, Palembang dan daerah-daerah lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar