Rabu, 29 Februari 2012

2. Jejak sejarah di dalam folklor, mitologi, legenda, upacara, dan nyanyian rakyat di berbagai daerah

a.       Folklor
Pengertian folklor secara etimologi berasal dari kata folk dan lore. Folk artinya kolektif atau bersama-sama. Sedangkan lore menunjukkan pada proses tradisi pewarisan kebudayaan secara turun-temurun. Folklor berkembang pada masyarakat yang memiliki kesamaan cita-cita, ciri-ciri fisik, sosial dan budaya. Jadi folklore lebih menunjukkan pada kesamaan identitas dalam suatu kelompok untuk membedakannya dengan kelompok yang lain.
Menurut James Danandjaja, folklor adalah suatu kebudayaan suatu masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk lisan, gerak isyarat dan alat bantu pengingat (mnemonic device). Folklor merupakan sebagian dari unsur kebudayaan yang penyebarannya dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut atau dengan cara-cara lain. Sehingga folklor terdiri atas floklor lisan dan bukan lisan.
Sebagai tradisi lisan, folklor berkembang sejak masyarakat prasejarah atau praaksara sampai sekarang. Dengan demikian tradisi lisan merupakan unsur dari folklor itu sendiri, sedangkan cakupan folklor lebih luas jika dibandingkan dengan tradisi lisan. Sehingga antara jenis folklor dengan tradisi lisan memiliki perbedaan, sebagai berikut :
1.   Floklor mencakup semua tradisi lisan, tari-tarian rakyat dan nyanyian rakyat.
2.   Tradisi lisan terdiri dari cerita rakyat, teka-teki rakyat, peribahasa rakyat dan nyanyian rakyat.
Bagi sekelompok masyarakat yang memiliki kesamaan identitas, folklor memiliki fungsi sebagai berikut :
1.      sebagai sistim proyeksi untuk mencerminkan angan-angan suatu kelompok tertentu.
2.      sebagai alat untuk mengesyahkan pranata-pranata sosial dan lembaga-lembaga kebudayaan.
3.      sebagai alat pendidikan terhadap anak-anak dalam menerima pewarisan kebudayaan.
4.      sebagai alat pemaksa terhadap norma-norma sosial agar dipatuhi oleh warga atau anggota kelompok.
b.      Mitologi
Mitologi adalah ilmu tentang kesusastraan yang mengandung konsep tentang hubungan antara proses penciptaan alam semesta dan manusia oleh para dewa serta hubungannya dengan arwah para leluhur atau pahlawan pada suatu bangsa. Cerita yang terdapat dalam mitologi disampaikan dalam bentuk prosa dengan mengambil tokoh para dewa atau manusia setengah dewa, yang dianggap benar-benar telah terjadi.
Karena cerita dalam mitologi lebih banyak mengandung unsur magis dan keajaiban, maka didalam menginterpretasikan peristiwa-peristiwa sangat jauh dari fakta-fakta sejarah. Dimana peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam mitologi baik yang berhubungan dengan nama tempat, nama tokoh serta tema merupakan hasil imajinasi dari pembuat cerita. Sedangkan cerita yang terkandung dalam mitologi itu sendiri adalah mengenaui uraian-uraian filsafat dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, misalnya dewa, roh suci, manusia setengah dewa, binatang suci dan sebagainya.
Berdasarkan asal-usulnya, adanya dua macam mitologi yang tersebar dalam masyarakat Indonesia. Mitologi asli Indonesia biasanya mengisahkan tentang terjadinya alam semesta, susunan para dewa, dunia kedewataan, terjadinya manusia pertama, tokoh pembawa kebudayaan dan terjadinya bahan makanan pokok, seperti beras. Contohnya adalah cerita tentang Dewi Sri sebagai keturunan para dewa yang menjelma dibumi menjadi padi. Nyai Roro Kidul yang dihubungkan dengan kerajaan Mataram Islam, Joko Tarub yang beristrikan seorang bidadari.
c.       Legenda
Legenda adalah cerita rakyat pada jaman dahulu yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah serta dikisahkan dalam bentuk prosa. Selain bersifat keduniawian (sekuler), legenda juga bersifat migratoris artinya sering berpindah-pindah tempat, sehingga dapat dikenal luas pada setiap daerah. Adapun cerita-cerita yang terdapat didalam legenda pada umumnya berisi tentang petuah atau nasehat mengenai sifat dan kerakter manusia yang berhubungan dengan kebaikan dan kejahatan. Sehingga petuah-petuah yang terdapat didalam legenda perlu diwariskan pada generasi penerusnya agar dapat dijadikan pedoman.
Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita legenda dianggap benar-benar telah terjadi, sehingga merupakan sejarah kolektif yang tidak tertulis. Apabila cerita tersebut akan diangkat untuk merekonstruksi sejarah, maka bagian-bagian legenda yang mengandung unsur folk dan pralogis harus dibersihkan terlebih dahulu.
Legenda terdapat pada setiap kebudayaan, bahkan jumlahnya lebih banyak jika dibanding dengan mitologi. Karena cerita yang terdapat pada legenda itu sendiri berhubungan dengan adat-istiadat, kepercayaan setempat, cerita kepahlawanan dan yang terjadi pada suatu daerah tertentu. Oleh karena itu sekelompok masyarakat yang menjadi pendukung kebudayaan memiliki legenda tersendiri. Sebagai contoh legenda Sangkuriang yang memiliki hubungan erat dengan terbentuknya gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Pada setiap daerah memiliki legenda-legenda tersendiri, seperti Legenda Ken Arok, Legenda Panji, Legenda Nyi Rara Kidul, Legenda Sangkuriang, Legenda Wali Songo, Legenda si Malin Kundang, Legenda si Pitung dan Legenda Sarif Tambakyoso.
d.      Upacara
Upacara adalah rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu berdasarkan adat-istiadat, agama atau kepercayaan. Melalui upacara tersebut manusia dapat mengetahui dan menemukan kembali asal-usulnya, sehingga dapat menyadari akan arti kehidupannya, baik bagi dirinya, orang lain, bangsa dan agama. Karena dalam setiap upacara mengandung nilai-nilai sakral maupun moral yang dapat membentuk tingkah laku atau perbuatan yang labih baik. Adapun jenis-jenis upacara tradisional antara lain seperti upacara penguburan, upacara pengukuhan kepala suku, upacara sebelum berperang dan sebagainya.
Tradisi upacara mulai berkembang sejak jaman prasejarah yaitu setelah manusia purba sudah mulai mengenal sistim kepercayaan animisme, dinamisme dan monotheisme. Tradisi upacara yang dilakukan adalah untuk mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, seperti bencana alam, wabah penyakit (pageblug), peristiwa kematian yang dihubungkan dengan adanya kekuatan-kekuatan magis. Karena kekuatan-kekuatan magis, seperti dewa, arwah nenek moyang dan roh halus dapat dimintai pertolongan untuk membantu mengatasi berbagai peristiwa yang dapat membahayakan manusia. Oleh karena itu manusia mulai mengadakan upacara-upacara ritual sesuai adatnya masing-masing untuk menghormati kekuatan-kekuatan magis tersebut.
e.       Nyanyian Rakyat
Menurut Jan Harold Brunvand nyanyian rakyat adalah suatu genre atau bentuk folklore yang terdiri dari teks dan lagu  yang beredar secara lisan diantara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan mempunyai banyak variasi (varian). Ada beberapa perbedaan antara nyanyian rakyat dengan nyanyian pop dan klasik, sebagai berikut :
1.      Bentuk dan isi yang terdapat pada nyanyian rakyat dapat dengan mudah berubah-ubah.
2.      Nyanyian rakyat lebih abadi atau berumur panjang daripada nyanyian pop dan klasik.
3.      Merupakan tradisi lisan yang penyebarannya dapat dilakukan secara lisan sehingga banyak memiliki variasi-variasi.
Nyanyian rakyat ada yang bersifat sesungguhnya dan ada yang tidak sesungguhnya. Nyanyian rakyat sesungguhnya yaitu antara lirik dan lagu sama-sama kuat, sedangkan yang tidak sesungguhnya antara lirik dan lagu biasanya lagunya yang menonjol atau sebaliknya. Sedangkan teks dan lagu pada nyanyian rakyat merupakan satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Sehingga teks biasanya dinyanyikan tidak harus dengan lagu yang sama, sebaliknya lagu yang sama dapat digunakan untuk menyanyikan teks yang berbeda.
Sedangkan isi yang terdapat pada nyanyian rakyat dapat menggambarkan seluruh kondisi sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat. Karena isi dari nyanyian rakyat merupakan ajaran-ajaran moral dan budaya yang meliputi keadaan geografis, peristiwa sejarah, mitos, legenda, keagamaan, pendidikan, cara bercocok tanam dan mengolah tanah. Jenis-jenis nyanyian rakyat dapat dibedakan menurut kegunaannya, yaitu :
1.      Nyanyian rakyat aba-aba digunakan untuk menggugah semangat gotong royong masyarakat. Contohnya aba-aba nyanyian rakyat dari Jawa Timur holobis kuntul baris, dari Sulawesi Selatan yaitu rambate rasa hayo.
2.      Nyanyian rakyat permainan yang digunakan untuk mengiringi anak-anak yang sedang bermain berbaris. Contohnya nyanyian permainan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu baris terik tempe, ridong udele bodong (berbaris seperti lauk dari tempe, Ridong pusarnya menonjol).
Berdasarkan isinya nyanyian rakyat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, antara lain :
1.      Nyanyian rakyat untuk permainan anak-anak.
2.      Nyanyian rakyat umum.
3.      Nyanyian rakyat Kerohanian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar