Minggu, 26 Februari 2012

JAMAN BATU BESAR

a.       Jaman batu besar (Megalithicum)
Kebudayaan batu besar menghasilkan benda-benda dan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu besar dan masif. Pembuatan dan pendirian bangunan-bangunan batu besar digunakan sebagai sarana pemujaan atau penghormatan terhadap arwah nenek moyang.
Munculnya kebudayaan batu besar ini terjadi pada jaman batu baru (neolithicum), kemudian berlangsung sampai pada jaman logam. Pada jaman logam perkembangan kebudayaan batu besar terus meluas keseluruh wilayah Indonesia. Sehingga hasil kebudyaan batu besar dapat ditemukan di Pulau Nias (Sumatera), Sumba dan Flores (Nusa Tenggara), serta Toraja (Sulawesi).
Sedangkan hasil penting dari kebudayaan batu besar ini berupa menhir, dolmen, punden berundak, peti kubur batu, sarkofagus, waruga dan arca-arca megalithik. Bersama-sama bangunan batu besar biasanya ditemukan pula alat-alat dari jaman neolithicum dan jaman logam. Tetapi temuan bersama yang paling banyak adalah alat-alat dari jaman logam. Dengan demikian pada jaman logam, kebudayaan batu besar berkembang pesat. Adapun hasil-hasil kebudayaan batu besar, sebagai berikut :
1.      Menhir
Menhir merupakan tugu batu, tebuat dari lempengan batu yang ditanam kedalam tanah. Menhir memiliki fungsi untuk mengikat hewan-hewan yang akan dikurbankan pada saat upacara pemujaan terhadap arwah leluhur.
Menhir yang ditemukan didesa; Dagan, Bobotsari, Purbaling (Jawa Tengah), jumlahnya ada tiga, antara lain :
1.      Dua buah batu menhir terletak didukuh Mujan
 Bangunan menhir bentuknya semacam tugu terbuat dari lempengan batu utuh. Lempengan batu ini kemudian sebagian ditanam di dalam tanah, sedangkan sisanya ada di atas permukaan tanah. Bangunan ini digunakan untuk mengikat hewan kurban pada saat melakukan upacara  pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Letak batu menhir Mujan, berada didua aliran sungai, yaitu sungai Klawin dan sungai Longkrang
Bangunan menhir tersebut terdiri dari dua macam batu yang ukurannya berbeda serta ditanam berjajar. Batu pada bagian depan berukuran panjang sebagai menhir utama, sedangkan batu bagian belakang berukuran pendek sebagai penyangga menhir utama.
 Satu buah batu menhir terletak didukuh Glempang
Bangunan menhir yang terletak didesa Dagan, dukuh Glempang Rt 05, Rw 09, memiliki bentuk yang berbeda dengan yang terdapat didukuh mujan. Bangunan batu menhir yang terdapat didukuh Glempang ini, terdiri dari dua macam, yaitu :
a.       Satu buah batu utama yang terletak diatas dua batu sebagai penyangga, merupakan dolmen yang biasanya digunakan untuk meletakkan sesaji. Dolmen tersebut terbuat dari lempengan batu kali dengan ukuran; pajang 64Cm, lebar 34Cm, tebal 5Cm.
b.      Dua buah batu penyangga yang terletak dibawah batu utama, merupakan menhir yang digunakan untuk menambatkan hewan kurba. Ada kemungkinan kedua batu penyangga tersebut, tingginya kira-kira lebih dari satu meter. Hal ini mengingat bahwa kedua batu penyangga tadi terkubur di dalam tanah. Akan tetapi jika dilihat dari permukaan tanah kedua batu penyangga mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Batu B mempunyai ukuran panjang 33Cm, lebar 34Cm dan tebal 23Cm, sedangkan  batu C mempunyai ukuran panjang 21Cm, lebar 26Cm, tebal 6Cm. Karena letaknya yang saling bertumpangan, maka oleh penduduk setempat disebut sebagai “watu tumpang” yang artinya batu tumpang.
1.      Dolmen
Dolmen adalah meja batu yang digunakan untuk meletakkan sejaji. Dolmen yang terdapat didesa Dagan, terdiri dari dua macam, yaitu :
A. Dolmen besar
Dolmen besar merupakan meja batu, yang terbuat dari lempengan batu besar berbentuk bulat-lonjong dan pipih. Dolmen ini terletak ditepi aliran sungai Klawing dan saluran irigasi, tetapi posisinya berdiri, ditanam dalam tanah serta disangga oleh batu-batu kecil. Ada kemungkinan, ketika baru ditemukan dolmen tersebut letaknya diatas permukaan tanah.
Sehingga ketika Belanda menggali bangunan irigasi pada tahun 1881, dolmen tersebut diselamatkan. Agar tidak mengghalangi aliran air, maka oleh Belanda, dolmen tersebut diletak ditepi saluran dengan posisi berdiri. Oleh karena itu, penduduk setempat menyebutnya sebagai “watu ngadeg” yang artinya batu berdiri.
b.   Dolmen kecil
 Dolmen kecil terdiri dari satu buah batu utama yang terletak diatas dua batu sebagai penyangga, merupakan dolmen yang biasanya digunakan untuk meletakkan sesaji. Dolmen tersebut terletak didesa Dagan, dukuh Glempang Rt 05, Rw 09. Oleh karena letaknya diatas dua buah batu penyangga, maka penduduk setempat menyebutnya sebagai “watu tumpang” artinya batu tumpang.
1.      Punden Berundak-Undak
Punden berundak-undak merupakan bangunan yang terbuat batu yang disusun bertingkat. Adapun fungsi bangunan ini adalah untuk melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur. Bangunan punden berundak yang paling tua dan paling besar bentuknya ditemukan didukuh Watu Tumpang, desa Banjarsari, Kecamatan Bobotsari. 
 Letaknya disebelah utara dukuh Mujan, menyeberangi sungai Klawing. Pedukuhan ini merupakan daerah perbukitan, dimana pada ujung puncak sebelah barat tepatnya ditebing sungai Klawing, terdapat bangunan batu besar. Bangunan batu besar ini oleh penduduk setempat disebut “Watu Tumpang,“ tetapi jika dilihat dari keadaan yang sesungguhnya menyerupai punden berundak-undak.
Bangunan ini terdiri dari tiga buah batu kali yang disusun berundak-undak, menghadap kearah timur. Pada batu bagian bawah berukuran besar, merupakan pondasi alam yang sangat kuat dengan permukaan bagian atasnya rata. Pada permukaan bagian atas batu tersebut, disebelah timurnya dibiarkan kosong, sedangkan disebelah barat digunakan untuk meletakkan dua buah batu. Tiap-tiap susunan batu mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Pada susunan kedua terdapat batu berukuran sedang dengan permukaan rata, sehingga dapat digunakan untuk meletak batu ketiga. Sedangkan pada susunan ketiga terdapat batu terakhir yang berukuran kecil.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar