Rabu, 29 Februari 2012

Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Aksara

Tradisi merupakan bagian dari kebudayaan yang telah dikembangkan oleh masyarakat sebagai pendukungnya. Berkembangnya tradisi sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari usaha tersebut maka manusia mulai berusaha untuk membuat peralatan-peralatan yang digunakan untuk membantu keterbatasan fisiknya.  Dari kejadian atau peristiwa yang pernah dialami maka manusia memperoleh pengalaman yang berharga. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian mereka tuangkan dalam bentuk tradisi agar dapat dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Sebagai contoh adalah tradisi kebudayaan batu pada masyarakat prasejarah atau praaksara, mereka membuat kapak perimbas, kapak lonjong dan sebagainya. Peralatan-peralatan dari batu tersebut kemudian digunakan untuk membantu keterbatasan fisiknya dalam memenuhi kebutuhan makan dengan cara berburu dan meramu.
Kemudian tradisi-tradisi mengalami perkembangan labih lanjut sejalan dengan kemajuan tingkat berpikir manusia. Perkembangan tingkat berfikir manusia merupakan hasil proses adaptasi dengan lingkungan alam, sosial dan budaya. Dengan demikian unsur-unsur kebudayaan yang datangnya dari luar ikut berperanan dalam proses perkembangan tradisi kebudayaan. 
Unsur kebudayaan asing yang ikut berpengaruh terhadap terjadinya perubahan-perubahan di Indonesia adalah kebudyaan India yang bercorak Hindu-Budha. Masuknya unsur kebudayaan India ini diawali dengan terjadinya hubungan dagang antara India dengan Cina yang melalui perairan Indonesia. Akan tetapi pengaruh kebudayaan Indialah yang lebih besar terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh kebudayaan India, seperti berikut :
a.   Daerah-daerah yang dipengaruhi unsur Budha di Indonesia.
Pada abad  VII – IX pengaruh unsur agama Budha menyebar ke wilayah Indonesia seperti Sempaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jawa Timur), Bukit Siguntang (Sumatra Selatan), Kota Bangun (Kutai, Kalimantan Timur).
b.   Daerah-daerah yang dipengaruhi unsur Hindu di Indonesia.
Daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh agama Hindu antara lain adalah Kutai (Kalimantan Timur), Tarumanegara (Jawa Barat), kemudian menyebar ke Ho-Ling, Mataram Kuno, Kanjuruhan, (Jawa Tengah),  Kediri, Singasari, Majapahit ( Jawa Timur), Sunda (Jawa Barat) dan Bali.
Pada perkembangan lebih lanjut terjadi proses akulturasi dan asimilasi antar unsur kebudayaan asli Indonesia dengan unsur kebudayaan India. Dengan terjadinya proses yang demikian, maka membawa perubahan-perubahan besar terhadap kebudayaan Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Sedangkan bidang-bidang kebudayaan antara lain sebagai berikut :
a.       Seni Bangunan atau Arsitektur
 Sejak masuknya pengaruh kebudayaan India, maka di Indonesia berkembanglah tradisi seni bangunan yang sebenarnya telah dimiliki oleh manusia prasejarah atau praaksara. Namun dalam perkembangan ini terjadi akulturasi antara kebudayaan asli Indonesia yaitu punden berundak-undak yang digunakan untuk membuat bangunan candi.
Sedangkan unsur kebudayaan pada bangunan candi yang lain adalah stupa, lingga dan yoni, yang hampir mirip dengan menhir dari kebudayaan megalithikum.
a.       Kesenian
Unsur kebudayaan India yang kemudian berkembang lagi di Indonesia adalah kesenian, terutama relief dan patung yang digunakan untuk menghiasi bangunan-bangunan candi. Hiasan relief yang diukir pada bongkahan batu menandakan masih dipertahankannya kubudayaan megalithikum. Sedangkan pada sisi lain ragam hias tersebut menggambarkan seluruh aspek kehidupan yang berhubungan dengan lingkungan alam, sosial, budaya dan religius.
Selain aspek-aspek kehidupan yang digambarkan melalui relief, aspek kehidupan manusiapun digambarkan pula dalam bentuk patung. Sehingga bentuk gambaran kehidupan baik melalui relief dan patung tidak hanya mengandung makna yang bersifat religius saja, tetapi yang lebih penting adalah hubungan manusia dengan lingkungan alam. Dari perpaduan relief dan patung menunjukkan bahwa antara manusia dengan alam terdapat saling ketergantungan.
a.       Kepercayaan atau Agama
Dalam masyarkat prasejarah atau praaksara di Indonesia telah dikembangkan suatu sistim kepercayaan animisme dan dinamisme. Tetapi setelah pengaruh kebudayaan India masuk ke Indonesia, masyarakat prasejarah atau praaksara mulai mengenal agama Hindu dan Budha. Meskipun telah menganut agama Hindu dan Budha, namun tidak meninggalkan kepercayaan animisme dan dinamisme.
 Arca atau patung merupakan wujud akulturasi kepercayaan terhadap arwah leluhur dengan agama Hindu maupun Budha. Sehingga pada saat itu terdapat tradisi yang mendewakan atau kultusindividu terhadap seorang raja sebagai keturunan dewa.
Contohnya arca perwujudan raja Anusapati sebagai Siwa pada candi Kidal, arca perwujudan raja Rajasa pada candi Kagenengan, arca perwujudan raja Wisnuwardhana sebagai Budha pada candi Tumpang, arca perwujudan raja Airlangga sebagai Wisnu yang sedang naik garuda dan sebagainya.
a.       Bahasa dan Tulisan
Unsur kebudayaan India yang dapat membawa perubahan terhadap kehidupan bangsa Indonesia adalah bahasa dan tulisan.
 Dimana ketika bangsa Indonesia mulai mengenal tulisan huruf  Pallawa dan bahasa Sansekerta, maka sejak saat itulah sudah mulai memasuki jaman sejarah. Dari bahasa dan tulisan bangsa Indonesia sudah dapat meninggalkan tradisi-tradisinya secara tertulis
Adapun tradisi-tradisi tertulis yang pernah ditinggalkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia antara lain adalah :
 
1.      Prasasti
Prasasti merupakan tradisi tulisan yang paling tua dalam sejarah Indonesia, karena pada saat itu terjadi peralihan antara jaman prasejarah menuju jaman sejarah. Tradisi ini berkembang dengan masih bertahannya kebudayaan megalithikum, khususnya menhir. Sehingga oleh bangsa Indonesia bangunan-bangunan batu menhir digunakan sebagai media untuk menulis huruf  Pallawa dan bahasa Sansekerta.
Selain mengenal bahasa dan tulisan, tradisi prasasti merupakan upaya dari nenek moyang untuk mewariskan pengalaman-pengalaman hidupnya. Dari tradisi prasasti terdapat informasi mengenai kehidupan sosial masyarakat prasejarah yaitu suku-suku terasing dan tertutup, berkembang manjadi masyarakat terbuka yang siap menerima pengaruh asing untuk berkembang kearah yang lebih maju. Perubahan tersebut terjadi pada susunan tata organisasi sosial yang semula bersifat kesukuan menjadi organisasi masyarakat yang bercorak kerajaan.
 
1.      Karya Sastra
Dengan berkembangnya bahasa Sansekerta dan tulisan huruf Pallawa, berpengaruh pula pada tradisi penulisan karya-karya sastra. Berhubung pengaruh Hindu-Budha pada saat itu sangat kuat, maka tradisi kesusastraanpun bercorak Hindu-Budha pula.
Tradisi kesusastraan di Indonesia berbentuk prosa dan puisi yang isinya mengenai keagamaan, cerita kepahlawanan, dan kitab undang-undang atau hukum. Perkembangan kesusastraan dimulai pada abad ke IX-X Masehi pada masa kerajaan Mataram Kuno dan Kediri. Ketika memasuki periode awal Majapahit berkembang karya sastra tembang disebut kakawin. Sedangkan pada periode Majapahit pertengahan, irama kakawin digeser menjadi irama kidung.
Pada tabel berikut merupakan karya sastra yang berpengaruh Hindu-Budha.
 
Perkembangan tradisi tulisan tidak hanya terjadi pada masa Hindu-Budha saja, tetapi setelah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hidu-Budha berakhir maka di Indonesia berkembanglah pengaruh Islam. Dengan berkembangnya agama Islam, maka bangsa Indonesia memasuki periode kedua dalam perkembangan tradisi tulisan. Pada periode Islam ini menunjukkan adanya kontak-kontak antara pengaruh unsur-unsur kebudayaan kebudayaan Hindu-Budha dengan unsur-unsur kebudayaan Arab yang bercorak Islam. Terjadinya asilimasi dan akulturasi antar dua unsur kebudayaan itu melahirkan kebudayaan baru khususnya yang bersifat lahiriah, seperti bangunan menara masjid Kudus, atap bertingkat pada bangunan masjid Demak dan sebagainya.
Sedangkan pengaruh Islam yang bersifat rohaniah dapat dilihat dari perkembangan penganut-penganut agama Islam yang sebagian besar berasal dari umat Hindu maupun Budha. Hal dapat terjadi karena ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Islam bersifat fleksibel, mudah dimengerti dan dipahami, tidak mengenal pembagian masyarakat menjadi kasta. Disamping pengaruh yang bersifat religius, juga terdapat pengaruh lain seperti pada digunakannya bahasa dan tulisan huruf Arab sebagai pengantar untuk mempelajari kitab suci Al Qur’an, Khadits, Kitab-Kita Kesusastraan.
Setelah bangsa Indonesia dapat menguasai bahasa dan tulisan huruf Arab, mulailah berkembang kesusastraan-kesusastraan yang bercorak Islam baik yang berbentuk Hikayat maupun Babad.
  1. Hikayat
Merupakan karya sastra tradisional yang berisi cerita sejarah atau cerita roman yang dibaca sebagai pelipur lara, pembangkit semangat juang dan meramaikan pesta. Penulisan hikayat pada masa perkembangan agama Islam di Indonesia seperti Sejarah Negeri Kedah, Hikayat Aceh, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu (Sullalatussalatin) Hiakayat Hasanuddin, Sejarah Raja-Raja Riau dan Tuhfat al Nafis.
  1. Babad
Dalam masyarakat Jawa berkembang tradisi karya sastra yang disebut Babad. Babad adalah cerita sejarah tradisional dikalangan masyarakat Jawa yang ditulis oleh para pujangga keraton untuk memperkuat kekuasaan seorang raja. Pada cerita babad ini terdapat silsilah raja dan keluarganya yang dihubungkan dengan keturunan nabi atau dewa. Pada cerita babad raja dianggap sebagai pusat kekuasaan atau pusat dunia, dimana seluruh wilayah kerajaan beserta isinya adalah milik raja. Adapun penulisan babad yang berkembanga pada masa Islam adalah Babad Tanah Jawi, Babad Giyanti, Babad Pasundan, Babad Dionegoro, Babad Nitik Sultan Agung, Babad Banten. Selain itu berkembang pula karya sastra yang tidak dapat digolongkan kedalam hikayat maupun babad, seperti Kitab Manikmaya, Bustanussalatin (Taman Raja-Raja), dan Tajussalatin (Mahkota Semua Raja-Raja).
a.       Sistim Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian yang dimiliki oleh penduduk Indonesia merupakan kelanjutan dari sistim berburu dan meramu yang sudah ada sejak jaman prasejarah. Namun pada jaman sejarah sistim mata pencaharian terus mengalami perkembangan seiring dengan digunakannya peralatan-peralatan yang terbuat dari logam. Maka pada jaman sejarah ini manusia tidak hanya mengenal mata pencaharian bercocok tanam, tetapi juga sudah memelihara binatang ternak. Kemudian setelah adanya hubungan dagang antara India dengan Cina yang melewati perairan Indonesia, maka masyarakat Indonesia juga mulai mengembangkan perdagangan.
Kegiatan perdagangan India-Cina yang berkembang pada abad ke V berpengaruh terhadap matapencaharian bercocok tanam di Indonesia. Di mana pada perkembangan itu, masyarakat Indonesia mulai mengenal tanam-tanam perkebunan dan kehutanan, seperti, rempah-rempah, kopi, cengkeh, getap pinus, getah damar. Maka kegiatan bercocok tanam mulai mengarah pada pertanian perkebunan.
Kemudian ketika bangsa-bangsa Eropa berdagang di Indonesia, kegiatan bercocok tanam semakin berkembang pesat. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan-permintaan hasil pertanian, perkebunan, kehutanan dan bahkan pada hasil-hasil pertambangan yang dibutuhkan oleh para pedagang dari Eropa. Dampak positif dari perdagangan bangsa-bangsa Eropa itu adalah dikenalnya berbagai tanaman-tanaman ekspor, seperti teh, tebu, sawit, kina, kopi, karet.
4.   Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia
Hasil akhir dari kegiatan penelitian sejarah adalah penulisan sejarah yang disebut historiografi. Secara etimologi histroriografi berasal dari kata history yang artinya sejarah, sedangkan grafein artinya menulis. Jadi historiografi adalah penulisan atau penyusunan kembali peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi pada masa lampau.
Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia telah mengalami beberapa masa. Pada tiap-tiap masa akan terlihat unsur-unsur serta kepentingan-kepentingan yang terdapat dalam penulisan sejarah, baik secara personal, kelompok maupun bagi bangsa dan negara. Berikut ini perkembangan penulisan sejarah pada tiap-tiap masa, sebagai berikut :
a.   Masa Tradisional
Perkembangan penulisan sejarah pada masa ini dimulai sejak masuknya pengaruh kebudayaan India yang bercorak Hindu-Budha. Kemudian ketika pengaruh Islam masuk ke Indonesia, maka penulisan sejarah di Indonesia mengalami perkembangan lebih lanjut. Akan tetapi penulisan sejarah tradisional ini masih bersifat istana sentris serta masih berbentuk babad, hikayat, tambo dan silsilah. Meskipun masih bersifat tradisional, namun bangsa Indonesia sudah berusaha menuliskan berbagai peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya.


    1. Jaman Hindu-Budha
Setelah kebudayaan India yang bercorak Hindu-Budha masuk, maka bangsa Indonesia sudah mulai mengenal tulisan, sehingga sudah dapat meninggalkan bukti-bukti tertulis. Untuk itu, maka manusia berusaha mencatat berbagai peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Adapun peristiwa-peristiwa yang dicatat merupakan kejadian-kejadian disekitar istana dalam bentuk prasasti. Hal ini menunjukkan adanya sifat istana sentris pada catatan-catatan itu, sehingga masih terdapat unsur kepentingan raja dan istana. Maka peristiwa-peristiwa yang dicatatnya tersebut berkisar pada masalah-malasah politik. Sebagai contoh prasasti peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno yang mengisahkan bahwa Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya telah berhasil mendirikan kerajaan yang bernama Bhumi Mataram.
Kemudian setelah pengaruh kesusastraan India berkembang, maka di Indonesia berkembang pula penulisan sejarah yang dikemas dalam bentuk karya-karya sastra. Selain itu juga sudah dikenal media-media untuk menulis karya-karya sastra, seperti kropak atau daun lontar, kulit pohon, kulit binatang, sehingga berpengaruh pada penulisan sejarah. Hal ini dapat dilihat pada perkembangan kesusastraan jaman kerajaan Kediri. Dimana pada tahun 1035 Empu Kanwa menulis kitab Arjuna Wiwaha yang mengisahkan Raja Airlangga sebagai keturunan dewa Wisnu untuk menjaga perdamaian dunia. Perkembangan penulisan sejarah terus berlanjut pada masa kerajaan Majapahit dengan lahirnya karya sastra Kitab Negara Kertagama yang dikarang oleh Empu Prapanca tahun 1365. Secara garis besarnya, bahwa Kitab Negara Kertagama berisi tentang :
a.   Sejarah pemerintahan raja-raja di kerajaan Singasari dan Majapahit.
b.   Kondisi pusat pemerintahan Majapahit serta daerah-daerah kekuasaannya.
c.   Mengisahkan kunjungan raja Hayamwuruk kedaerah-daerah yang kemudian diikuti dengan pembangunan-pembangunan candi.
d.   Kehidupan keagamaan serta pelaksanaan upacara-upacara keagamaan dikerajaan.
Dengan demikian penulisan sejarah masih dipengaruhi oleh keinginan atau kehendak dari raja dengan tujuan untuk melegitimasi kekuasaannya. Selain itu juga adanya suatu pengkuan dari para pendeta maupun brahmana, bahwa raja merupakan keturunan para dewa yang diturunkan kebumi untuk menjaga perdamaian dunia.
    1. Jaman Islam
Setelah kedudukan agama Islam di Indonesia bertambah kuat, yaitu dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten, Pajang, Mataram Islam dan sebagainya, maka penulisan sejarah berkembang lebih pesat. Tentu saja penulisan sejarah pada masa ini selain masih dipengaruhi oleh keinginan dan kehendak raja, juga disesuaikan dengan kebudayaan Islam. Meskipun demikian, khususnya dipulau Jawa unsur-unsur kesusastraan yang bercorak Hindu-Budha secara lahiriah masih tetap dipertahankan, untuk kepentingan siar Islam itu sendiri. Oleh karena itu penulisan sejarah dipulau Jawa masih tetap mempertahankan bentuk babad. Sedangkan dipulau Sumatera dan daerah sekitar selat Malaka (Melayu) sudah menggunakan bentuk hikayat.
a.   Babad
Dikalangan masyarakat Jawa terdapat cerita sejarah tradisional yang kemudian lebih dikenal dengan istilah babad. Babad ini ditulis oleh para pujangga keraton atas perintah seorang raja. Di dalam babad ini memuat riwayat hidup seorang raja yang dilukiskan dalam bentuk silsilah. Dari silsilah ini memperlihatkan bahwa raja-raja Islam selain sebagai keturunan nabi, juga masih mengakui dirinya sebagai keturunan para dewa. Raja dengan lingkungan keratonnya dianggap sebagai pusat dunia, sehingga seluruh wilayah kerajaan dengan segala isinya adalah milik raja.
Maka terlihatlah bahwa tujuan penulisan sejarah tersebut adalah untuk memperkuat kedudukan raja sebagai keturunan nabi agar mendapat pengakuan dari umat Islam. Akan tetapi karena pengaruh kebudayaan Hindu-Budha masih kuat, maka raja mengakui dirinya sebagai keturunan para dewa. Selain itu cerita-cerita sejarah yang terkandung dalam babad, juga masih memuat untuk irasional atau masih berdasarkan pada mitos yang dicampur adukkan dengan realitas.
Penulisan sejarah yang demikian terdapat dalam Babad Tanah Jawi yang menceritakan bahwa Sutawijaya pulung (cahaya sakti) untuk mendirikan kerajaan Mataram Islam. Akan tetapi penulisan sejarah pada abad ke 18 sudah mulai berkembang dan mengarah pada unsur-unsur kebenaran sejarah yang didasarkan pada realitas terjadinya suatu peristiwa. Seperti terdapat pada Babad Giyanti, Babad Diponegoro, Babad Nitik Sultan Agung dan Babad Banten. Karena pada masa itu sudah mendapat pengaruh kekuasaan VOC/Belanda, sehingga penulisan sejarah yang terkandung pada Babad Giyanti melukiskan perpecahan kerajaan Mataram Islam tahun 1755 Masehi.
b.   Hikayat
 Penulisan sejarah pada karya sastra tradisional yang berkembang di Sumatera dan sekitar selat Malaka (Melayu) adalah cerita roman yang dikemas dalam bentuk hikayat. Hikayat bagi kalangan masyarakat Sumatera dan sekitarnya sudah merupakan suatu tradisi yang diselenggarakan pada setiap ada acara pesta dan perjamuan. Pada saat itulah hikayat dibacakan sebagai pelipur lara, pembangkit semangat juang dan untuk meramaikan acara pesta. Kisah sejarah berbentuk hikayat yang berkembang pada waktu itu adalah  Sejarah Negeri Kedah, Hikayat Aceh, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Hikayat Hasanuddin, Sejarah Raja-Raja Riau dan Tuhfat Al Nafis.
b.   Masa Kolonial
Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan penjajahan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia. Isi dari historiografi kolonial adalah mengenai aktivitas-aktivitas perdagangan, masalah politik atau pemerintahan para gubernur jendral serta kehidupan orang-orang Eropa di Indonesia. Karena isinya yang demikian, sehingga historiografi kolonial sering dikatakan bersifat Eropasentris atau berpusat pada berbagai kehidupan orang-orang Eropa yang pernah menjajah Indonesia.
Perkembangan penulisan sejarah pada masa kolonial Eropa mulai terjadi ketika bangsa Belanda datang di Indonesia. Sehingga sifat penulisan sejarah pada masa kolonial Belanda disebut Neerlandosentris atau berpusat pada kehidupan orang-orang Belanda. Adapun sumber-sumber yang digunakan berasal dari arsip-arsip negara di Belanda (Algemeen Rijksarchieve), arsip-arsip VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) dan arsip-arsip Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Batavia (sekarang Jakarta).
Dalam buku sejarahnya yang berjudul Reizen atau Kisah Perjalanan Nicholaus de Graff, Cornelis de Bruijn, Rijklofs van Goens dan Valentijn mengisahkan pelayaran dan proses kolonisasi bangsa Belanda di Indonesia tahun 1600. Sedangkan Nicholaus de Graff sendiri dalam jurnal Oost Indische Spigle menulis kisah perjalananya ke Indonesia melalui kapal laut dan kehidupan masyarakat Indonesia pada setiap pelabuhan yang dikunjunginya antara tahun 1639-1643 dan antara tahun 1668-1687. Rijklofs van Goens dalam karyanya yang berjudul Oost Indische Spiegel (Kisah Hindia Timur) yang pada saat itu berkedudukan sebagai duta besar VOC, menulis kisah perjalanannya ke Kerajaan Mataram Islam antara tahun 1648 sampai 1654. Kemudian pastor Francois Valentijn dalam karya tulisnya yang berjudul Oud en Nieuw Oost Indien (Hindia Timur Dulu dan Sekarang) berisi gambaran tentang kondisi masyarakat, bahasa, politik dan perdagangan di Indonesia pada abad ke 18.
Penulisan sejarah kolonial yang dilakukan oleh orang-orang Belanda pada umunya kurang memperhatikan sumber-sumber lokal yang terdapat di Indonesia. Sehingga sudut pandang penulisan sejarah kolonial yang demikian menitik beratkan subyektifitas yaitu memperkecil peranan bangsa Indonesia. Sedangkan peranan bangsa Belanda lebih ditonjolkan, dengan demikian sifat penulisan sejarah tersebut adalah Neerlandosentris. Sifat penulisan sejarah yang demikian dapat terlihat dengan jelas pada karya J.J Meinsma yang berjudul Geschiedenis van Nederlandsch Oost Indische Bezettingen (Sejarah Hindia Belanda dan Sekitarnya). Contoh sifat Neerlandosentris terlihat juga pada buku Beknopt Leerboek der Geschiedenis van Nederlandsch Indie (Buku Pelajaran Sejarah Singkat Hinsia Belanda) karya A.J. Eijkman dan Dr. F.W. Stapel. Dalam buku tersebut kematian Jendral Kohler yang ditembak oleh pejuang Aceh didepan Masjid Raya Aceh pada tanggal 14 Aril 1873 tidal ditulis. Hal ini menunjukkan bahwa para penulis sejarah dari bangsa Belanda berusaha menyembunyikan fakta-fakta kepahlawanan rakyat Aceh melawan penindasan kolonial. Selain itu juga ada upaya untuk mengaburkan kebenaran fakta sejarah yang dilakukan oleh para penulis sejarah bangsa Belanda lainnya. Upanya tersebut terlihat dalam karya W. Fruin Mees yaitu Geschiedenis van Java (Sejarah Jawa) dan karya H.J. de Graaf yaitu Geschiedenis van Indonesie (Sejarah Indonesia).
c.   Masa Nasional
Etelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia berusaha merekonstruksi (menyusun kembali) penulisan konsep sejarah nasional. Konsep penulisan sejarah berbeda dengan hisotriografi tradisional yang bersifat kedaerahan (regiosentris) dan hisotriografi kolonial yang bersifat Eropasentris, maka penulisan sejarah nasional bersifat Indonesiasentris. Yang dimaksud dengan Indonesiasentris adalah konsep penulisan sejarah yang membahas peranan bangsa Indonesia dalam berbagai peristiwa bersejarah.
Penulisan sejarah nasional juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter dan nasionalisme (character and nation  building), sehingga selalu dikaitkan dengan semangat nasionalisme. Selain itu juga mementingkan unsur konsensus seperti kesatuan, integritas, ketertiban dan keamanan masyarakat Indonesia. Proses penulisan sejarah yang demikian melalui perdebatan mengenai orientasi dan rekontruksi sejarah nasional Indonesia malalui Seminar Sejarah Nasional pertama yang diselenggarakan dikota Yogyakarta pada tahun 1957. Pada seminar sejarah pertama tersebut muncul gagasan yaitu perlu adanya nasionalisasi atau pribumisasi terhadap penulisan sejarah Indonesia. Perkembangan penulisan sejarah Indonesia terus mengalami kemajuan dan perubahan yang mengarah pada Indonesia sentris. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan maka diselenggarakan Seminar Sejarah Nasional Indonesia pada tahun 1970. Sehingga pada era tahun 1970-an muncul berbagai penulisan sejarah sebagai bagian dari disiplin ilmu pengetahuan melalui proyek-proyek penelitian, penerbitan, seminar-seminar sejarah dan pengabdian pada masyarakat. Akibat dari seminar sejarah Indonesia yang pertama maupun yang kedua, maka terjadi otonomi terhadap penulisan sejarah Indonesia. Sebagai bukti dari otonomi sejarah adalah artikel karya R. Ismail berjudul Towards History of Indonesia. Dalam artikel tersebut lebih mengedepankan sejarah Indonesia dari sudut pandang orang Indonesia sendiri, dengan menekankan pada dinamika kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga tidak menjadi ajang perebutan dan permainan bangsa-bangsa asing semata.
Sebagai tindak lanjut dari seminar sejarah yang kedua, maka pada tahun 1981 diselenggarakan Seminar Sejarah Nasional ketiga yang menganjurkan upaya integrasi dalam penulisan sejarah Indonesia. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penulisan integrasi sejarah Indonesia adalah ilmu-ilmu sosial. Selain itu pakar sejarah Sartono Kartodirjo dari Universitas Gajah Mada menganjurkan agar menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial, juga menggunakan pendekatan struktural dan sejarah analitis.  Untuk itulah agar dapat membuka cakrawala baru dalam penulisan sejarah Indonesia baik dari segi teori maupun metodologi, maka Sartono Kartodirjo mengutarakan pemikiran-pemikirannya melalui buku yang berjudul Pendektan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah dan Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia : Suatu Alternatif.
Dengan adanya kemajuan dalam penulisan sejarah Indonesia baik dari segi teori maupun metodologi sehingga Sartono Kartodirjo, Marwati Djoned Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto berhasil menyusun buku sejarah yang berjudul Sejarah Nasional Indonesia. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia penulisan sejarah menekankan pada aspek kronologi dan proses peristiwa sejarah yang memiliki sifat sinkronik-struktural. Meskipun dalam buku Sejarah Nasional Indonesia masih banyak terdapat kekurangan, akan tetapi buku tersebut merupakan satu-satunya buku sejarah nasional terlengkap serta komprehensif.
Selain itu Seminar Sejarah Nasional ketiga juga mendorong baik kalangan akademisi maupun militer untuk menyusun buku sejarah. Dari kalangan akademisi seperti T. Ibrahim Alfian telah menyusun disertasi sejarah berjudul Perang di Jalan Allah. Sedangkan Sartono Kartodirjo menyusun disertasi berjudul Pemberontakan Petani di Banten 1888. Adapun tokoh-tokoh TNI A.H. Nasution menyusun buku yang berisi pengalaman pribadi berjudul Sekitar Perang Kemerdekaan. Sedangkan A.H. Nasution, T.B. Simatupang dan Hasan Basry menulis buku memoar mengenai pengalaman mereka pada saat terjadi revolusi fisik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar