Minggu, 26 Februari 2012

Kebudayaan Ngandong

Di daerah sekitar Ngandong dan Sidorejo dekat Madiun, Jawa Timur, ditemukan peralatan-peralatan, seperti :
a.       Kapak genggam.
b.      Flake merupakan alat-alat serpih atau alat-alat kecil.
c.       Alat-alat dari tulang, seperti alat penusuk atau belati, ujung tombak bergegaji pada dua sisi, alat pengorek ubi dan keladi, dan mata tombak dari duri ikan.
a.       Alat-alat dari tanduk rusa yang ujungnnya sudah diruncingkan.
b.      Alat-alat yang terbuat dari batu indah seperti chalcedon.
 Alat-alat dari Ngandong juga ditemukan didaerah lain, seperti Sangiran, Sragen, Jawa Tengah dan Cabbenge di Sulawesi Selatan. Menurut para ahli alat-alat yang ditemukan di Ngandong, berasal dari lapisan Ngandong atau pleistosen atas, tetapi pada lapisan tersebut ditemukan fosil Homo Wajakensis. Sementara pada lapisan yang sama, tepatnya didaerah Ngadirejo, Sambung Macan, Sragen, Jawa Tengah, selain ditemukan kapak genggam, ditemukan pula tulang binatang dan batok tengkorak Homo Soloensis
Dengan demikian atas dasar contoh penemuan tersebut, para ahli mengambil kesimpulan bahwa pendukung utama kebudayaan Ngandong adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis. Karena kedua fosil itu berasal dari lapisan yang sama dengan ditemukannya alat-alat dari Ngandong yaitu pleistosen atas.
 
a.       Jaman batu tengah (Mesolithicum)
Kebudayaan batu tengah (Mesolithicum) berlangsung pada masa kala Holosen. Jika dibandingkan dengan kebudayaan batu tua, perkembangan kebudayaan batu tengah ini terjadi lebih cepat. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
1.      Kebudayaan ini didukung oleh manusia purba jenis Homo Sapiens atau manusia cerdas.
2.      Pada masa kala Holosen sekitar 20.000 tahun yang lalu, kondisi sudah stabil.
Meskipun demikian, pada jaman batu tengah masih menggunakan alat-alat dari jaman batu tua, tetapi sudah mendapat pengaruh dari Asia daratan, sehingga muncul corak tersendiri. Bahkan, alat-alat tulang dan flake dari jaman batu tua masih memegang peranan penting pada jaman batu tengah. Selain itu pada jaman batu tengah, manusia purba juga sudah mampu membuat gerabah dari tanah liat yang dibakar. Kebudayaan batu tengah memiliki corak istimewa, antara lain sebagai berikut :
1.      Terdapat sampah-sampah dapur (Kjokkenmodinger) yang ditemukan disepanjang pesisir pantai, terutama di pantai timur Sumatera.
2.      Gua-gua sebagai tempat tinggal (Abris sous roche), seperti yang ditemukan di Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan daerah persebarannya, maka kebudayaan batu tengah ini terdiri dari tiga macam, dimana masing-masing memiliki corak tersendiri, sebagai berikutm:
1.      Kebudayaan kapak genggam Sumatera (Pabble Culture)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh P.V. Van Stein Callenfels pada tahun 1925, di Langsa (Aceh) dan Medan, yaitu berupa :
a.       Kjokkenmodinger atau sampah dapur
Sampah dapur ini berupa tumpukan kulit kerang, dengan tinggi mencapai tujuh meter. Setelah dianalisa oleh para ahli, maka tumpukan sampah dapur ini merupakan bekas tempat tinggal manusia purba dari jaman batu tengah (mesolithicum). Bersama-sama tumpukan sampah dapur, ditemukan pula pabble, pipisan, alu, lesung dan pisau batu.
b.      Pablle atau kapak genggam Sumatera
Pabble merupakan nama yang diberikan pada kapak genggal yang ditemukan di Sumatera, tetapi bentuknya berbeda dengan kapak genggam dari Jawa atau chopper. Selain itu, ditemukan pula kapak pendek atau hache courte yang dibuat dengan cara memukuli dan memecahkan batu, dengan tajamnya terdapat pada sisi lengkungnya, tetapi tidak diasah.
c.       Pipisan atau batu penggilingan
Pipisan ini merupakan batu penggilingan beserta landasannya yang digunakan untuk menghaluskan bahan cat merah. Karena pada keduanya terdapat bekas cat berwarna merah. Menurut para ahli, bahwa digunakannya cat merah ini berhubungan dengan sistim kepercayaan yang dianut, yakni ilmu sihir. Pada kepercayaan manusia purba, warna merah merupakan darah yang menjadi tanda kehidupan. Kemudian cat merah dioleskan keseluruh tubuh sampai merata, sehingga orang yang memakainya diyakini bdannya akan bertambah kuat.
d.      Selain beberapa alat tersebut, ditemuakan pula alu dan lesung, pisau batu, serta alat-alat lainnya
Kapak Sumatera (pabble) dan kapak pendek (hache courte), diperkirakan berasal dari kebudayaan Bascon Hoabinh yang berpusat di Teluk Tonkin, Indo China. Melalui jalan barat, yakni Malaka dan Sumatera, kebudayaan Bascon Hoabinh kemudian menyebar keseluruh wilayah Indonesia. Adapun pendukung kebudayaan kapak Sumatera (pabble) adalah manusia dari ras Papua Melanesoid. Hal ini didukung oleh penemuan fosil dari ras Papua Melanesoid yang banyak ditemukan dibukit-bukit kerang Sumatera Timur.
2.      Kebudayaan tulang Sampung (Bone Culture)
Penelitian terhadap alat-alat yang terbuat dari batu dan tulang digua Lawa, dekat Sampung, Ponorogo, Jawa Timur antara tahun 1928 sampai 1931 oleh P.V. Van Stein Callenfels, menemukan flake, mata panah, batu-batu penggiling serta alat-alat yang terbuat dari tulang dan tanduk rusa. Sedangkan hasil penelitian ditempat lain seperti pada gua-gua di daerah Besuki, Bojonegoro, Jawa Timur, ditemukan pula alat-alat dari batu, tulang dan kulit kerang. Alat-alat dari tulang ini kemudian disebut sebagai kebudayaan tulang Sampung (Sampung bone culture).
Kebudayaan tulang sampung ini didukung oleh manusia dari ras Papua Melanesoid yang juga menjadi pendukung kebudayaan kapak Sumatera. Hal ini sangat mungkin, karena pada bukit kerang sampah dapur di Sumatera Timur maupun gua-gua di Sampung, menjadi tempat tinggal manusia dari ras Papua Melanesoid. Sehingga pada perkembangan lebih lanjut ras Papua Melanesoid menurunkan suku-suku bangsa yang sampai saat ini masih tinggal di Papua dan kepulauan Melanesia.
3.      Kebudayaan Toala (Flake Culture)
Dua orang bersaudara dari Swiss yang bernama Fritz Sarasin dan Paul Sarasin, antara tahun 1893 sampai 1896 meneliti gua-gua (abris sous roche) didaerah Lumacong, Sulawesi Selatan, yakni suatu daerah tempat kediaman suku Toala.
 Hasil penelitian adalah berupa alat-alat serpih (flake), mata panah bergigi, dan alat-alat dari tulang. Dua bersaudara tersebut sampai pada suatu kesimpulan bahwa pendukung kebudayaan Toala
adalah manusia dari ras Wedda di Srilangka, termasuk ras Weddoid, yang menjadi nenek moyang suku Toala sekarang.
 Setelah penelitian tersebut dilanjutkan oleh P.V. Van Stein Callenfels (1933-1934), serta Van Heekeren (1937), kedua orang ahli tersebut menyimpulkan bahwa kebudayaan Toala termasuk kebudayaan batu tengah (Mesolithicum) yang berlangsung pada tahun 3000 sampai 1000 SM.
Hasil penelitian team arkheologi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkheologi Nasional dikawasan karst wilayah desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan (sumber Kompas, Jumat, 29 Oktober 2010) alat-alat serpih terbuat dari batu rijang dan obsidian. Alat-alat serpih ini digunakan oleh ras Mongoloid penghuni gua Harimau. Dengan demikian ras Mongoloid, sudah memiliki kemampuan memanfaatkan lingkungan alam untuk kebutuhan sehari-hari. Penemuan alat-alat tersebut bersamaan dengan ditemukannya 18 rangka manusia prasejarah ras Mongoloid yang dikubur bersamaan pada satu liang. Temuan rangka berikut artefak sebagai peninggalan budaya ras Mongoloid di karst Padang Bindu, Sumatera Selatan dan juga temuan di Ulu Tijanko, Jambi, menunjukkan kesamaan usia sekitar 3.500 tahun yang lalu dengan budaya Austronesia di Sulawesi.
Ciri khas kebudayaan Toala adalah pada flakes bergerigi, dapat ditemukan pada gua-gua didaerah-daerah lain :
a.       Lumacong, Maros, Bone dan Bantaeng di Sulawesi Selatan.
b.      Pulau Timor, Flores dan Roti di Nusatenggara Timur.
a.       Priangan, Bandung, Jawa Barat ditemukan flake yang terbuat dari batu obsidian atau batu hitam yang indah.
Akan tetapi kalangan ahli-ahli yang lain menyatakan bahwa pendukung kebudayaan Toala adalah manusia dari ras Papua Melanesoid. Sehingga ras Papua Melanesoid selain memiliki kebudayaan Toala, juga memiliki kebudayaan tulang Sampung dan kebudayaan kapak Sumatera yang sama-sama berasal dari jaman batu tengah (mesolithicum).
a.       Jaman batu baru (Neolithicum)
Perkembangan kebudayaan pada jaman batu muda sudah sangat maju. Hal ini dapat terjadi, karena dipengaruhi oleh terjadinya migrasi bangsa Proto Melayu dari wilayah Yunan di Cina Selatan menuju ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bangsa Proto Melayu tersebut membawa kapak lonjong dan kapak persegi, kemudian disebarkan pada daerah-daerah yang mereka tempati.
Dengan demikian kapak lonjong dan kapak persegi tersebut, menjadi ciri khas dari kebudayaan batu muda (neolithicum).
Kemajuan yang terdapat pada kebudayaan batu muda ini adalah pada teknik pembuatan kapak lonjong dan kapak persegi yang sudah diasah sampai halus. Sehingga seorang ahli kebudayaan Indonesia yang bernama R. Soekmono berpendapat bahwa kebudayaan neolithicum menjadi dasar kebudayaan di Indonesia sampai sekarang. Sedangkan persebaran kebudayaan batu muda ini hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.
1.      Kebudayaan kapak persegi
Penelitian terhadap kapak persegi dilakukan oleh Von Heine Geldern dengan memperhatikan penampang-alangnya sehingga ada yang berbentuk persegi panjang dan ada yang berbentuk trapesium. Daerah persebaran kapak persegi di Indonesia bagian barat terutama dipulau Bali, Jawa dan Sumatera.
Sedangkan di Indonesia bagian timur menyebar kepulau-pulau seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan sedikit di Kalimantan.
Kebudayaan kapak persegi juga ditemukan didaerah Lahat dekat Palembang, Bogor, Sukabumi, Purwakarta, Karawang dan Tasik Malaya serta di Pacitan dan lereng gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. Selain itu, penduduk setempat didesa Dagan, kecamatan Bobotsari, kabuaten Purbalingga, Jawa Tengah yang bernama Aris Suwasro, menemukan kapang persegi berbentuk persegi panjang dari batu calchedon (berwarna hitam mengkilap).
Kapak persegi yang terbuat dari batu calchedon dibuat dengan sangat indah dan halus. Sehingga para ahli berpendapat bahwa benda-benda tersebut tidak digunakan untuk bekerja, melainkan sebagai lambang kebesaran, jimat, alat upacara dan sebagai alat tukar. Ada pula variasi-variasi lain dari kapak persegi, seperti; kapak bahu, kapak tangga, kapak atap, kapak biola dan kapak penarah.
Dengan demikian kebudayaan milik bangsa Proto Melayu ini setingkat lebih tinggi dari kebudayaan milik Homo Sapiens, sebagaimana yang pernah ditemukan di Indonesia. Kedatangan bangsa Proto Melayu di Indonesia, melalui jalur barat sekitar tahun 2000 SM, kemudian menurunkan suku-suku Dayak, Toraja, Sasak, Batak dan Papua.
1.      Kebudayaan kapak lonjong
Kapak lonjong merupakan alat yang terbuat dari batu, berbentuk lonjong. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus.
Sisi pangkal agak runcing dan diikat pada tangkai. Sisi depan  lebih melebar dan diasah sampai tajam.
Alat ini digunakan untuk memotong kayu dan berburu. Ditemukan di Sulawesi, Flores, Tanimbar, Maluku dan Papua.
Selain kapak persegi dan kapak lonjong, pada masa neolithicum banyak ditemukan alat-alat kebudayaan lain, sebagai berikut :
 Alat-alat perhiasan yang terbuat dari batu indah jenis calcedon, banyak ditemukan di Pulau Jawa. Bahkan didesa Dagan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, banyak ditemukan sisa-sisa pembuatan gelang batu berwarna hijau dan hitam mengkilap, berbentuk bulat pipih. Sehingga ada kemungkinan bahwa pada jaman dahulu desa tersebut merupakan pusat pembuatan gelang batu.
 Hal ini, didukung oleh penggalian yang dilakukan dari team arkheologi Harry Truman Simanjuntak, antara tahun 1979-1980, terhadap situs prasejarah yang terletak didukuh Mujan, desa Dagan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah
 Pada situs tersebut, selain ditemukan batu menhir, juga ditemukan dolmen dan perhiasan, seperti gelang batu. Kemudian pada tahun 2008, penilitan terhadap situs prasejarah Mujan, desa Dagan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah dilanjutkan lagi oleh Team Geologi dan Arkheologi dari Institut Teknologi Bandung yang dibantu para mahasiswa fakultas geologi Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto, menemukan potongan-potongan batu sisa-sisa pembuatan gelang batu, dengan bahan baku dari batu jasper hijau yang berbentuk cakram. Selain itu, ditemukan pula batu mulia Le Sang Du Christ pada daerah aliran sungai Klawing di desa Dagan, Kecamatan Bobotsari.
Le Sang Du Christ merupakan batu mulia kualitas terbaik, sehingga oleh penduduk setempat disebut sebagai batu Nogo Sui. Menurut; Ir Sudjatmiko, Dipl. Ing, bahwa temuan tersebut sudah menunjukkan adanya kegiatan manusia pada masa neolithicum yang mulai melirik kebenda-benda aestetik, bukan lagi berdasarkan fungsinya semata. Penulispun, juga sering mendapati sisa-sisa pembuatan gelang batu yang berserakan disawah-sawah milik penduduk setempat.
1.      Pakaian
Penemuan alat pemukul kayu dan periuk belanga yang berhiaskan tenunan, dapat memberi petunjuk bahwa pada jaman kebudayaan batu baru (neolithicum), manusia sudah mengenal pakaian.
Akan tetapi bahan yang digunakan untuk membuat pakaian berasal dari kulit kayu, tetapi ada yang terbuat dari bahan tekstil.
1.      Tembikar
Pada jaman neolithicum, manusia juga sudah mampu membuat peralatan-peralatan dari tanah liat yang dibakar. Pembuatan tembikar atau gerabah seperti periuk belanga, selain digunakan untuk keperluan sehari-hari, juga digunakan untuk alat upacara adat, seperti kelahiran dan pemakaman. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tembikar pada lapisan bukit kerang di Sumatera dan bukit-bukit pasir pada pantai selatan pulau Jawa yaitu antara Yogyakarta dan Pacitan,
Kendeng, Lembu, Banyuwangi, Melolo, Sumba. Pada daerah-daerah tersebut ditemukan gerabah yang didalamnya berisi tulang belulang manusia.
Penelitian manusia purba oleh Team Arkheogi dari Balai Arkheologi Bandung, tahun 2003  (sumber Kompas, Sabtu, 23 Oktober 2010), digua Pawon berhasil menemukan benda-benda seperti gerabah, obsidian dan tulang binatang. Selain itu juga ditemakan sisa-sisa rangka manusia pada kedalaman 80 cm yang diberi kode 1 terdiri dari atap tengkorak, rahang bawah, rahang bawah yang diwarnai dengan hemotid (pewarna merah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar