Senin, 20 Februari 2012

2. Jejak sejarah di dalam folklor, mitologi, legenda, upacara, dan nyanyian rakyat di berbagai daerah


a.       Folklor
Pengertian folklor secara etimologi berasal dari kata folk dan lore. Folk artinya kolektif atau bersama-sama. Sedangkan lore menunjukkan pada proses tradisi pewarisan kebudayaan secara turun-temurun. Folklor berkembang pada masyarakat yang memiliki kesamaan cita-cita, ciri-ciri fisik, sosial dan budaya. Jadi folklore lebih menunjukkan pada kesamaan identitas dalam suatu kelompok untuk membedakannya dengan kelompok yang lain.
Menurut James Danandjaja, folklor adalah suatu kebudayaan suatu masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk lisan, gerak isyarat dan alat bantu pengingat (mnemonic device). Folklor merupakan sebagian dari unsur kebudayaan yang penyebarannya dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut atau dengan cara-cara lain. Sehingga folklor terdiri atas floklor lisan dan bukan lisan.
Sebagai tradisi lisan, folklor berkembang sejak masyarakat prasejarah atau praaksara sampai sekarang. Dengan demikian tradisi lisan merupakan unsur dari folklor itu sendiri, sedangkan cakupan folklor lebih luas jika dibandingkan dengan tradisi lisan. Sehingga antara jenis folklor dengan tradisi lisan memiliki perbedaan, sebagai berikut :
1.   Floklor mencakup semua tradisi lisan, tari-tarian rakyat dan nyanyian rakyat.
2.   Tradisi lisan terdiri dari cerita rakyat, teka-teki rakyat, peribahasa rakyat dan nyanyian rakyat.
Bagi sekelompok masyarakat yang memiliki kesamaan identitas, folklor memiliki fungsi sebagai berikut :
1.      sebagai sistim proyeksi untuk mencerminkan angan-angan suatu kelompok tertentu.
2.      sebagai alat untuk mengesyahkan pranata-pranata sosial dan lembaga-lembaga kebudayaan.
3.      sebagai alat pendidikan terhadap anak-anak dalam menerima pewarisan kebudayaan.
4.      sebagai alat pemaksa terhadap norma-norma sosial agar dipatuhi oleh warga atau anggota kelompok.
b.      Mitologi
Mitologi adalah ilmu tentang kesusastraan yang mengandung konsep tentang hubungan antara proses penciptaan alam semesta dan manusia oleh para dewa serta hubungannya dengan arwah para leluhur atau pahlawan pada suatu bangsa. Cerita yang terdapat dalam mitologi disampaikan dalam bentuk prosa dengan mengambil tokoh para dewa atau manusia setengah dewa, yang dianggap benar-benar telah terjadi.
Karena cerita dalam mitologi lebih banyak mengandung unsur magis dan keajaiban, maka didalam menginterpretasikan peristiwa-peristiwa sangat jauh dari fakta-fakta sejarah. Dimana peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam mitologi baik yang berhubungan dengan nama tempat, nama tokoh serta tema merupakan hasil imajinasi dari pembuat cerita. Sedangkan cerita yang terkandung dalam mitologi itu sendiri adalah mengenaui uraian-uraian filsafat dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, misalnya dewa, roh suci, manusia setengah dewa, binatang suci dan sebagainya.
Berdasarkan asal-usulnya, adanya dua macam mitologi yang tersebar dalam masyarakat Indonesia. Mitologi asli Indonesia biasanya mengisahkan tentang terjadinya alam semesta, susunan para dewa, dunia kedewataan, terjadinya manusia pertama, tokoh pembawa kebudayaan dan terjadinya bahan makanan pokok, seperti beras. Contohnya adalah cerita tentang Dewi Sri sebagai keturunan para dewa yang menjelma dibumi menjadi padi. Nyai Roro Kidul yang dihubungkan dengan kerajaan Mataram Islam, Joko Tarub yang beristrikan seorang bidadari.
c.       Legenda
Legenda adalah cerita rakyat pada jaman dahulu yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah serta dikisahkan dalam bentuk prosa. Selain bersifat keduniawian (sekuler), legenda juga bersifat migratoris artinya sering berpindah-pindah tempat, sehingga dapat dikenal luas pada setiap daerah. Adapun cerita-cerita yang terdapat didalam legenda pada umumnya berisi tentang petuah atau nasehat mengenai sifat dan kerakter manusia yang berhubungan dengan kebaikan dan kejahatan. Sehingga petuah-petuah yang terdapat didalam legenda perlu diwariskan pada generasi penerusnya agar dapat dijadikan pedoman.
Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita legenda dianggap benar-benar telah terjadi, sehingga merupakan sejarah kolektif yang tidak tertulis. Apabila cerita tersebut akan diangkat untuk merekonstruksi sejarah, maka bagian-bagian legenda yang mengandung unsur folk dan pralogis harus dibersihkan terlebih dahulu.
Legenda terdapat pada setiap kebudayaan, bahkan jumlahnya lebih banyak jika dibanding dengan mitologi. Karena cerita yang terdapat pada legenda itu sendiri berhubungan dengan adat-istiadat, kepercayaan setempat, cerita kepahlawanan dan yang terjadi pada suatu daerah tertentu. Oleh karena itu sekelompok masyarakat yang menjadi pendukung kebudayaan memiliki legenda tersendiri. Sebagai contoh legenda Sangkuriang yang memiliki hubungan erat dengan terbentuknya gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Pada setiap daerah memiliki legenda-legenda tersendiri, seperti Legenda Ken Arok, Legenda Panji, Legenda Nyi Rara Kidul, Legenda Sangkuriang, Legenda Wali Songo, Legenda si Malin Kundang, Legenda si Pitung dan Legenda Sarif Tambakyoso.
d.      Upacara
Upacara adalah rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu berdasarkan adat-istiadat, agama atau kepercayaan. Melalui upacara tersebut manusia dapat mengetahui dan menemukan kembali asal-usulnya, sehingga dapat menyadari akan arti kehidupannya, baik bagi dirinya, orang lain, bangsa dan agama. Karena dalam setiap upacara mengandung nilai-nilai sakral maupun moral yang dapat membentuk tingkah laku atau perbuatan yang labih baik. Adapun jenis-jenis upacara tradisional antara lain seperti upacara penguburan, upacara pengukuhan kepala suku, upacara sebelum berperang dan sebagainya.
Tradisi upacara mulai berkembang sejak jaman prasejarah yaitu setelah manusia purba sudah mulai mengenal sistim kepercayaan animisme, dinamisme dan monotheisme. Tradisi upacara yang dilakukan adalah untuk mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, seperti bencana alam, wabah penyakit (pageblug), peristiwa kematian yang dihubungkan dengan adanya kekuatan-kekuatan magis. Karena kekuatan-kekuatan magis, seperti dewa, arwah nenek moyang dan roh halus dapat dimintai pertolongan untuk membantu mengatasi berbagai peristiwa yang dapat membahayakan manusia. Oleh karena itu manusia mulai mengadakan upacara-upacara ritual sesuai adatnya masing-masing untuk menghormati kekuatan-kekuatan magis tersebut.
e.       Nyanyian Rakyat
Menurut Jan Harold Brunvand nyanyian rakyat adalah suatu genre atau bentuk folklore yang terdiri dari teks dan lagu  yang beredar secara lisan diantara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan mempunyai banyak variasi (varian). Ada beberapa perbedaan antara nyanyian rakyat dengan nyanyian pop dan klasik, sebagai berikut :
1.      Bentuk dan isi yang terdapat pada nyanyian rakyat dapat dengan mudah berubah-ubah.
2.      Nyanyian rakyat lebih abadi atau berumur panjang daripada nyanyian pop dan klasik.
3.      Merupakan tradisi lisan yang penyebarannya dapat dilakukan secara lisan sehingga banyak memiliki variasi-variasi.
Nyanyian rakyat ada yang bersifat sesungguhnya dan ada yang tidak sesungguhnya. Nyanyian rakyat sesungguhnya yaitu antara lirik dan lagu sama-sama kuat, sedangkan yang tidak sesungguhnya antara lirik dan lagu biasanya lagunya yang menonjol atau sebaliknya. Sedangkan teks dan lagu pada nyanyian rakyat merupakan satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Sehingga teks biasanya dinyanyikan tidak harus dengan lagu yang sama, sebaliknya lagu yang sama dapat digunakan untuk menyanyikan teks yang berbeda.
Sedangkan isi yang terdapat pada nyanyian rakyat dapat menggambarkan seluruh kondisi sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat. Karena isi dari nyanyian rakyat merupakan ajaran-ajaran moral dan budaya yang meliputi keadaan geografis, peristiwa sejarah, mitos, legenda, keagamaan, pendidikan, cara bercocok tanam dan mengolah tanah. Jenis-jenis nyanyian rakyat dapat dibedakan menurut kegunaannya, yaitu :
1.      Nyanyian rakyat aba-aba digunakan untuk menggugah semangat gotong royong masyarakat. Contohnya aba-aba nyanyian rakyat dari Jawa Timur holobis kuntul baris, dari Sulawesi Selatan yaitu rambate rasa hayo.
2.      Nyanyian rakyat permainan yang digunakan untuk mengiringi anak-anak yang sedang bermain berbaris. Contohnya nyanyian permainan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu baris terik tempe, ridong udele bodong (berbaris seperti lauk dari tempe, Ridong pusarnya menonjol).
Berdasarkan isinya nyanyian rakyat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, antara lain :
1.      Nyanyian rakyat untuk permainan anak-anak.
2.      Nyanyian rakyat umum.
3.      Nyanyian rakyat Kerohanian.
3.   Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Aksara
Tradisi merupakan bagian dari kebudayaan yang telah dikembangkan oleh masyarakat sebagai pendukungnya. Berkembangnya tradisi sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari usaha tersebut maka manusia mulai berusaha untuk membuat peralatan-peralatan yang digunakan untuk membantu keterbatasan fisiknya.  Dari kejadian atau peristiwa yang pernah dialami maka manusia memperoleh pengalaman yang berharga. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian mereka tuangkan dalam bentuk tradisi agar dapat dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Sebagai contoh adalah tradisi kebudayaan batu pada masyarakat prasejarah atau praaksara, mereka membuat kapak perimbas, kapak lonjong dan sebagainya. Peralatan-peralatan dari batu tersebut kemudian digunakan untuk membantu keterbatasan fisiknya dalam memenuhi kebutuhan makan dengan cara berburu dan meramu.
Kemudian tradisi-tradisi mengalami perkembangan labih lanjut sejalan dengan kemajuan tingkat berpikir manusia. Perkembangan tingkat berfikir manusia merupakan hasil proses adaptasi dengan lingkungan alam, sosial dan budaya. Dengan demikian unsur-unsur kebudayaan yang datangnya dari luar ikut berperanan dalam proses perkembangan tradisi kebudayaan. 
Unsur kebudayaan asing yang ikut berpengaruh terhadap terjadinya perubahan-perubahan di Indonesia adalah kebudyaan India yang bercorak Hindu-Budha. Masuknya unsur kebudayaan India ini diawali dengan terjadinya hubungan dagang antara India dengan Cina yang melalui perairan Indonesia. Akan tetapi pengaruh kebudayaan Indialah yang lebih besar terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh kebudayaan India, seperti berikut :
a.   Daerah-daerah yang dipengaruhi unsur Budha di Indonesia.
Pada abad  VII – IX pengaruh unsur agama Budha menyebar ke wilayah Indonesia seperti Sempaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jawa Timur), Bukit Siguntang (Sumatra Selatan), Kota Bangun (Kutai, Kalimantan Timur).
b.   Daerah-daerah yang dipengaruhi unsur Hindu di Indonesia.
Daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh agama Hindu antara lain adalah Kutai (Kalimantan Timur), Tarumanegara (Jawa Barat), kemudian menyebar ke Ho-Ling, Mataram Kuno, Kanjuruhan, (Jawa Tengah),  Kediri, Singasari, Majapahit ( Jawa Timur), Sunda (Jawa Barat) dan Bali.
Pada perkembangan lebih lanjut terjadi proses akulturasi dan asimilasi antar unsur kebudayaan asli Indonesia dengan unsur kebudayaan India. Dengan terjadinya proses yang demikian, maka membawa perubahan-perubahan besar terhadap kebudayaan Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Sedangkan bidang-bidang kebudayaan antara lain sebagai berikut :
a.       Seni Bangunan atau Arsitektur
 Sejak masuknya pengaruh kebudayaan India, maka di Indonesia berkembanglah tradisi seni bangunan yang sebenarnya telah dimiliki oleh manusia prasejarah atau praaksara. Namun dalam perkembangan ini terjadi akulturasi antara kebudayaan asli Indonesia yaitu punden berundak-undak yang digunakan untuk membuat bangunan candi.
Sedangkan unsur kebudayaan pada bangunan candi yang lain adalah stupa, lingga dan yoni, yang hampir mirip dengan menhir dari kebudayaan megalithikum.
a.       Kesenian
Unsur kebudayaan India yang kemudian berkembang lagi di Indonesia adalah kesenian, terutama relief dan patung yang digunakan untuk menghiasi bangunan-bangunan candi. Hiasan relief yang diukir pada bongkahan batu menandakan masih dipertahankannya kubudayaan megalithikum. Sedangkan pada sisi lain ragam hias tersebut menggambarkan seluruh aspek kehidupan yang berhubungan dengan lingkungan alam, sosial, budaya dan religius.
Selain aspek-aspek kehidupan yang digambarkan melalui relief, aspek kehidupan manusiapun digambarkan pula dalam bentuk patung. Sehingga bentuk gambaran kehidupan baik melalui relief dan patung tidak hanya mengandung makna yang bersifat religius saja, tetapi yang lebih penting adalah hubungan manusia dengan lingkungan alam. Dari perpaduan relief dan patung menunjukkan bahwa antara manusia dengan alam terdapat saling ketergantungan.
a.       Kepercayaan atau Agama
Dalam masyarkat prasejarah atau praaksara di Indonesia telah dikembangkan suatu sistim kepercayaan animisme dan dinamisme. Tetapi setelah pengaruh kebudayaan India masuk ke Indonesia, masyarakat prasejarah atau praaksara mulai mengenal agama Hindu dan Budha. Meskipun telah menganut agama Hindu dan Budha, namun tidak meninggalkan kepercayaan animisme dan dinamisme.
 Arca atau patung merupakan wujud akulturasi kepercayaan terhadap arwah leluhur dengan agama Hindu maupun Budha. Sehingga pada saat itu terdapat tradisi yang mendewakan atau kultusindividu terhadap seorang raja sebagai keturunan dewa.
Contohnya arca perwujudan raja Anusapati sebagai Siwa pada candi Kidal, arca perwujudan raja Rajasa pada candi Kagenengan, arca perwujudan raja Wisnuwardhana sebagai Budha pada candi Tumpang, arca perwujudan raja Airlangga sebagai Wisnu yang sedang naik garuda dan sebagainya.
a.       Bahasa dan Tulisan
Unsur kebudayaan India yang dapat membawa perubahan terhadap kehidupan bangsa Indonesia adalah bahasa dan tulisan.
 Dimana ketika bangsa Indonesia mulai mengenal tulisan huruf  Pallawa dan bahasa Sansekerta, maka sejak saat itulah sudah mulai memasuki jaman sejarah. Dari bahasa dan tulisan bangsa Indonesia sudah dapat meninggalkan tradisi-tradisinya secara tertulis
Adapun tradisi-tradisi tertulis yang pernah ditinggalkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia antara lain adalah :
1.     Prasasti
Prasasti merupakan tradisi tulisan yang paling tua dalam sejarah Indonesia, karena pada saat itu terjadi peralihan antara jaman prasejarah menuju jaman sejarah. Tradisi ini berkembang dengan masih bertahannya kebudayaan megalithikum, khususnya menhir. Sehingga oleh bangsa Indonesia bangunan-bangunan batu menhir digunakan sebagai media untuk menulis huruf  Pallawa dan bahasa Sansekerta.
Selain mengenal bahasa dan tulisan, tradisi prasasti merupakan upaya dari nenek moyang untuk mewariskan pengalaman-pengalaman hidupnya. Dari tradisi prasasti terdapat informasi mengenai kehidupan sosial masyarakat prasejarah yaitu suku-suku terasing dan tertutup, berkembang manjadi masyarakat terbuka yang siap menerima pengaruh asing untuk berkembang kearah yang lebih maju. Perubahan tersebut terjadi pada susunan tata organisasi sosial yang semula bersifat kesukuan menjadi organisasi masyarakat yang bercorak kerajaan.
1.      Karya Sastra
Dengan berkembangnya bahasa Sansekerta dan tulisan huruf Pallawa, berpengaruh pula pada tradisi penulisan karya-karya sastra. Berhubung pengaruh Hindu-Budha pada saat itu sangat kuat, maka tradisi kesusastraanpun bercorak Hindu-Budha pula.
Tradisi kesusastraan di Indonesia berbentuk prosa dan puisi yang isinya mengenai keagamaan, cerita kepahlawanan, dan kitab undang-undang atau hukum. Perkembangan kesusastraan dimulai pada abad ke IX-X Masehi pada masa kerajaan Mataram Kuno dan Kediri. Ketika memasuki periode awal Majapahit berkembang karya sastra tembang disebut kakawin. Sedangkan pada periode Majapahit pertengahan, irama kakawin digeser menjadi irama kidung.
Pada tabel berikut merupakan karya sastra yang berpengaruh Hindu-Budha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar