Selasa, 21 Februari 2012

PENELITIAN MANUSIA PURBA

TEAM EKSKAVASI MENEMUKAN FOSIL BINATANG DI KEDUNG BRUBUS
Binatang ternyata pernah hidup diwilayah kabupaten Madiun. Buktinya, ditemukan 19 fosil hewan purba oleh team ekskavasi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, disekitar waduk Kedungbrubus, desa Bulu, kecamatan Pilangkenceng. Belasan fosil itu diduga sudah berumur antara 500.000-800.000 tahun atau memasuki jaman tipic.
Ketua team ekskavasi BPSMP Sangiran, Ilham Abdulah menjelaskan :“Perkiraan sementara, waduk Kedungbrubus merupakan wilayah hutan purba. Sebab tidak ditemukan unsur-unsur laut didalam kandungan tanahnya.” Menurut Ilham Abdulah, penggalian disekitar waduk Kedungbrubus, dilaksanakan sejak tanggal 21 Juli 2011 yang lalu. Selama Sembilan hari team ekskavasi dapat menemukan sejumlah fosil hewan, seperti paha hewan dari genus stegodon atau gajah purba, gigi dan tulang rusuk badak purba, plastron atau tulang tempurung kura-kura purba sebelah bawah dan tulang binatang genus bovidae atau kerbau purba.
Ilham Abdulah, mejelaskan :”Fosil hewan purba ini ditemukan di empat lokasi penggalian. Dari petak 75 sampai Padas Gudik.” Rencananya, penemuan ini akan dibawa ke Sangiran, untuk diteliti. Utamanya, untuk mengetahui asal-usulnya hewan purba tersebut. Menurut Ilham Abdulah, pihaknya membutuhkan waktu sampai Sembilan bulan untuk meneliti tulang binatang itu.
“Diharapkan penelitian ini dapat memperoleh hasil. Khususnya untuk fosil kura-kura. Bisa saja kura-kura itu spesies baru yang belum diteliti sampai mendetil. Maklum, koleksi fosil kura-kura di Sangiran sedikit jika dibandingkan dengan binatang lainnya” penjelasan Ilham.
Menurut Ilham, penggalian di waduk Kedungbrubus berdasarkan pada studi pustaka dan literature dari para arkheolog. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Eugene Dubois sekitar tahun 1890 sampai penelitian Von Koeningswald. “Sebelum menjelajahi Sangiran dan Trinil, Eugene Dubois, pertama kali mengadakan penelitian di Kedungbrubus. Disini dia untuk pertama kalinya menemukan fosil. Diharakan, penggalian yang dilaksanakan disini dapat menambah data yang sudah ada.”
Situs Kedungbrubus juga memiliki banyak kesamaan dengan situs-situs lainnya. Sperti situs di Mojokerto, Klagen (Gresik), Trinil (Ngawi), Ngandong (Blora), Sambung Macan dan Bringin (Sragen), Sangiran, Semudo (Tegal), Pati Ayam (Kudus) sampai Bumiayu.
“Situs-situs ini menggambarkan kebudayaan dan kehidupan pada jaman homo erectus,” jelasnya. Menurut Ilham, bahwa kegiatan ekskavasi melibatkan 23 orang peniliti yang terdiri dari 6 arkheolog, peneliti bidang geologi, bidang biologi, kimia, geografi serta banyak tenaga teknis penggalian. Team berasal dari berbagai lembaga, akademisi dan mahasiswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar