Minggu, 19 Februari 2012

Tradisi Sejarah Dalam Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan Masa Aksara


Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan “ Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah “. Pernyataan ini menekankan pentingnya masa lalu bagi kehidupan setiap individu, kelompok, suku, bangsa dan negara yang tidak boleh ditinggalkan. Meskipun masa lalu ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan, tetapi tidak boleh ditinggalkan melainkan harus diolah dan dievaluasi. Hasilnya adalah rekonsiliasi dan perdamaian bagi setiap individu, kelompok, suku, bangsa dan negara.
Masa lalu disamping sebagai kekayaan juga dapat digunakan sebagai pedoman yang sangat berharga untuk kehidupan dimasa kini, sekarang dan yang akan datang. Ada dua macam aspek utama pada peninggalan masa lalu itu sendiri, yaitu :
1.   Peninggalan masa lalu yang bersifat material, yaitu berupa benda-benda peninggalan hasil kebudayaan.
2.   Peninggalan masa lalu yang bersifat non material, yaitu berupa sistem kepercayaan, pandangan hidup, falsafah hidup, cita-cita, etos, nilai dan norma.
Kedua aspek tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat sekali, karena apa yang diciptakan berupa benda merupakan perwujudan dari hasil pemikiran, gagasan dan ide-ide. Agar kedua aspek masa lalu tersebut tidak dilupakan dan ditinggalkan, maka perlu diwarikan kepada generasi penerusnya baik melalui keluarga maupun masyarakat. Untuk lebih memahaminya, maka simaklah uraian-uraian materi dibawah ini, yang meliputi :
1.      Cara Masyarakat Indonesia Masa Praaksara Mewariskan Masa Lalunya
Masa lalu tidak hanya menjadi milik masyarakat yang hidup pada jaman sejarah saja, tetapi juga dimiliki oleh masyarakat yang hidup pada jaman prasejarah atau praaksara. Meskipun masyarakat prasejarah atau praaksara belum dapat membaca dan menulis, tetapi mereka sudah memiliki masa lalu. Masa lalu yang pernah mereka alami kemudian diwariskan kepada anak cucunya atau generasi penerusnya melalui :
a.   Keluarga
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting sekali didalam mewariskan masa lalunya kepada anak maupun cucunya, karena interaksi dalam keluarga terjadi setiap hari. Di samping itu hubungan antar keluarga antara kakek, nenek, ayah, ibu, anak dan cucu berlangsung dengan sangat intim sekali. Maka melalui hubungan atau interaksi keluarga tersebut banyak sekali kesempatan yang digunakan untuk menyampaikan seluruh pengalaman-pengalaman hidup nenek moyangnya. Proses pewarisan masa lalu melalui keluarga ini disampaikan dalam bentuk :
1.      Cerita dongeng
Dongeng adalah merupakan sarana yang efektif untuk menyampaikan pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma dan bahasa serta kebudayaan non material lainnya. Melalui dongeng itulah maka para orang tua dapat menyampaikan pesan-pesan moral dari generasi sebelumnya. Dongeng adalah sarana yang efektif bagi keluarga dalam membentuk karakter kepribadian pada anak cucunya.
Cerita dongeng yang disampaikan oleh para orang tua biasa mengenai tingkah laku hewan yang mirip dengan tingkah laku manusia, karakter tokoh-tokoh pahlawan, tokoh-tokoh legendaris dan sebagainya. Sebagai contoh adalah legenda Putri Ayu Limbasari, dimana sang Putri menjadi rebutan para Bupati yang akhirnya menimbulkan korban pertumpahan darah yaitu kakaknya sendiri. Dengan kejadian yang sangat mengecewakan dan menyedihkan hatinya itu maka sang Putri memilih dikubur hidup-hidup. Pada kuburnya diberi lobang bambu untuk bernafas dan seutas tali benang sebagai tanda kalau bergerak menunjukkan masih hidup, kalau berhenti bergerak maka menandakan sang Putri sudah mati.
Dari cerita legendaris tersebut maka dapat diambil hikmahnya yaitu bahwa setiap terjadi perebutan harta, tahta dan wanita selalu menimbulkan pertumpahan darah dan menimbulkan korban. Timbulnya pertumpahan darah dan menimbulkan korban itulah yang perlu dihindari.
2.      Adat-istiadat
Pewarisan masa lalu juga dapat disampaikan dalam bentuk adat-istiadat dan kebiasaan dalam keluarga. Dalam adat istiadat tersebut terdapat seperangkat nilai atau norma yang sifatnya tidak tertulis. Di sertai sangsi-sangsi moral yang secara tidak langsung dapat menimbulkan efek positif terhadap pembentukan dan perubahan sikap dan tingkah laku baik pada yang melakukan pelanggaran maupun yang tidak melakukan pelanggaran.
Biasanya penyampaian masa lalu melalui adat-istiadat dapat menimbulkan kepatuhan, ketaatan yang disertai dengan sangsi-sangsi moral pada generasi penerusnya. Timbulnya kepatuhan dan  ketaatan itu sendiri akan membentuk karakter kepribadian atau tingkah-laku pada generasi penerusnya.
b.   Masyarakat
Masyarakat adalah merupakan lingkungan yang kedua bagi individu untuk bersosialisasi diluar lingkungan keluarganya. Proses sosialisasi dengan lingkungan masyarakat dapat dilakukan melalui hubungan antar tetangga atau kepala keluarga. Dalam proses sosial tersebut, maka akan diperoleh pengalaman-pengalaman yang pernah dilakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Hal ini terjadi karena pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki oleh satu tetangga dengan tetangga yang lain berbeda. Dari pengalaman-pengalaman masa lalu generasi sebelumnya merupakan sarana yang efektif untuk membentuk karakter kepribadian maupun potensi-potensi yang diingikannya. Adapun cara yang efektif untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman atau pengetahuan masa lalu dalam masyarakat adalah melalui :
1.   Adat-istiadat
Dalam proses sosialisasi tersebut biasanya terjadi perbedaan pendapat, keinginan, kepentingan dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itulah yang dapat menimbulkan pertentangan, maka untuk mengatasinya dibentuk seperangkat aturan atau tata nilai dan norma yang sifatnya tidak tertulis. Seperangkat aturan atau tata nilai dan norma yang sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari akan membentuk menjadi adat istiadat.
Selain perbedaan-perbedaan tersebut tadi, biasanya dalam masyarakat terdapat kesamaan kepentingan. Dengan adanya kesamaan itulah maka antar warga masyarakat dapat melakukan kerjasama seperti gotong royong. Melalui kegiatan gotong royong, maka semua beban dan kepentingan dapat dipikul sama berat dan dijinjing sama ringan atau ditanggung bersama-sama.
2.   Pertunjukan hiburan
Pertunjukan hiburan merupakan salah satu media atau sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan dan mewariskan pengalaman-pengalaman masa lalu yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. Dalam pertunjukan tersebut biasanya terdapat pesan-pesan moral dan material mengenai pengalaman atau peristiwa pada masa lalu. Pesan-pesan moral dan material tersebut disampaikan oleh dalang dan para pelaku cerita mengenai peristiwa tertentu dengan tokoh-tokoh tertentu.
Pesan-pesan tersebut biasanya disampaikan dalam bentuk kiasan (dalam bahasa Jawa disebut sanepa) baik melalui cerita maupun tokoh-tokoh dalam sebuah cerita yang diperankan oleh para pemain atau pelaku. Penyampaian pesan melalui kiasan atau sanepa tersebut bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan baik oleh individu maupun sekelompok orang, seperti perasaan tersinggung, harga diri dan sebagainya.
Sebagai contoh adalah pertunjukan seni tradisional kuda lumping yang menurut orang Jawa disebut jatilan atau ebeg. Dalam pertunjukan kuda lumping tersebut terdapat pesan-pesan, baik yang mengenai perbedaan maupun persamaan peran dan tanggung jawab. Para penayagan mempunyai peran dan tanggung jawab sebagai pengiring musik bagi para penari kuda lumping. Sedangkan para pemain, pelaku atau penari mempunyai tugas, peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Ada yang berperan sebagai penunggang kuda dari ayaman bambu, ada yang berperan sebagai hantu dalam bahasa Jawa disebut cepet. Meskipun demikian antara penayagan dengan para pemain ada persamaan tujuan dan kepentingan, sehingga harus saling menyesuaikan atau sinkronisasi agar pertunjukan dapat berjalan lancar sesuai keinginan dari dalang atau pemimpin pertunjukan.
Dari pertunjukan seni kuda lumping tersebut terdapat pesan moral yang ingin disampaikan kepada para penonton. Pesan moralnya adalah bahwa ketika seseorang sedang merasakan betapa nyamannya naik sebuah kendaraan (naik kuda anyaman bambu) jangan sampai mabuk kepayang atau terlena. Apabila hal itu sampai terjadi maka akan berakibat fatal bagi dirinya maupun orang lain. Apabila orang sedang mabuk kepayang akan bertingkah laku seperti hewan, seperti setan yang tidak memiliki norma sopan santun serta mekhalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.
3.      Kepercayaan masyarakat
Bagi masyarakat Indonesia tradisi terhadap pemujaan arwah leluhur memiliki perananan yang sangat penting untuk mengingat kembali peristiwa masa lalu yang pernah dialami oleh para leluhurnya. Menurut masyarakat yang pernah hidup pada masa prasejarah atau praaksara bahwa kekuatan magis merupakan faktor penentu bagi perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Terjadinya perubahan-perubahan itu sendiri sebagai akibat perbuatan manusia terhadap alam, binatang maupun sesama manusia.
Maka apabila perbuatan manusia dapat menimbulkan kerusakan alam maupun sesama mahluk hidup, para dewa akan memberi kutukan berupa bencana alam seperti banjir, badai, gunung meletus, gagal panen dan sebagainya. Terhadap bencana alam yang merupakan kutukan dari para dewa dan arwah nenek moyang, maka dapat menumbuhkan suatu sistim kepercayaan bagi manusia prasejarah atau praaksara. Sehingga sejak terjadinya bencana alam tersebut manusia prasejarah atau praaksara melakukan pemujaan terhadap para dewa, arwah para leluhur dan kekuatan-kekuatan alam.
Dengan demikian maka masyarakat pada masa prasejarah atau praaksara sudah mulai mengenal sistim kepercayaan animisme, dinamisme dan monoteisme. Melalui sistim kepercayaan seperti tersebut tadi, maka manusia prasejarah atau praaksara berusaha untuk mewariskannya kembali kepada generasi penerusnya. Hal ini dimaksudkan agar perbuatan-perbuatan manusia yang dapat menimbulkan terjadinya kerusakan alam dan sesama manusia dapat dicegah dan dihindari.
Sehingga sampai sekarang masih terdapat sebagian masyarakat yang hidup pada jaman sejarah ini mempercayai bahwa suatu tempat tertentu seperti gunung, sumber air, pohon besar, lubuk sungai dan sebagainya mempunyai kekuatan-kekuatan gaib. Oleh karena itu terhadap tempat-tempat yang dianggapnya memiliki kekuatan gaib ( dalam bahasa Jawa disebut angker atau wingit ) dilarang melakukan perbuatan-perbuatan tidak baik seperti berkata kotor, berbuat jina, dan perbuatan-perbuatan lain yang merugikan dan menimbulkan kerusakan lingkungan.
Sebagai contoh adalah tindakan yang dilakukan oleh Mbah Marijan terhadap ledakan kawah gunung Merapi yang menimbulkan banjir lahar panas dan gelombang awan panas atau wedus gembel. Tindakan yang dilakukan oleh Mbah Marijan tersebut didasari oleh kepercayaan yang kuat terhadap para penghuni alam gaib di gunung Merapi. Oleh karena itu beliau merasa yakin bahwa para penghuni alam gaib dapat ditaklukkan, sehingga tidak menimbulkan letusan gunung berapi.
a.       Sistim Kepercayaan atau Religius
Masyarakat yang hidup pada jaman prasejarah atau praaksara telah memiliki kepercayaan pada roh nenek moyang yang mengatur alam semesta. Melalui keyakinan terhadap adanya kekuatan gaib tersebut maka muncullah sistim kepercayaan yang diperkirakan mulai tumbuh sejak jaman prasejarah atau praaksara.
 Adanya keyakinan tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya lukisan cap tangan pada dinding di Gua Leang Patae, Sulawesi Selatan. Lukisan cap tangan tersebut berwarna merah yang diperkirakan sebagai simbol perlindungan dari gangguan roh-roh jahat
 Untuk melaksanakan upacara pemujaan terhadap arwah nenek moyang, maka mereka mendirikan bangunan-bangunan suci yang terbuat dari batu besar. Adapun bangunan-bangunan suci yang mereka dirikan adalah berupa menhir, dolmen, punden berundak dan sebagainya
 
a.       Sistim Organisasi Sosial atau Masyarakat
Manusia selain sebagai mahluk individu juga merupakan mahluk sosial yang perlu berinteraksi dengan manusia lain agar dapat saling tolong-menolong dan saling bekerjasama. Demikian pula pada masyarakat prasejarah atau praaksara, meskipun masih sederhana mereka sudah memiliki sistim organisasi sosial atau masyarakat. Adapun organisasi sosial yang mereka bentuk kelompok-kelompok sederhana yang terdiri dari keluarga kecil dengan sistim pembagian kerja yang belum jelas. Hal ini dipengaruhi oleh tempat tinggal mereka yang masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain menyesuaiakan dengan bahan makanan yang tersedia dialam.
Pada masyarakat prasejarah juga telah dikenal sistim pemilihan kepala / ketua kelompok yang didasarkan pada kharisma seseorang seperti kekuatan supranatural, kesaktian dan kemampuan lain yang berhubungan dengan dunia magis. Berbeda dengan saat ini, dimana pemilihan anggota MPR dan DPR yang tidak didasarkan pada kemampuan intelektual, tetapi lebih didasarkan pada kemampuan materi yang dimilikinya.
b.      Sistim Peralatan Hidup dan Teknologi
Kemampuan fisik yang dimiliki oleh manusia sangat terbatas, sehingga manusia tidak mungkin mengerjakan segala sesuatunya dengan tangan, kaki dan anggota tubuh yang lain. Mengingat keterbatasan fisiknya, maka manusia membuat peralatan hidup yang dapat digunakan untuk membantunya dalam mengerjakan sesuatu. Dari proses pembuatan alat-alat tersebut, maka manusia sudah mulai mengenal dan mengembangkan kebudayaan dan teknologinya meskipun tarafnya masih sangat sederhana
Demikian pula halnya dengan manusia yang hidup pada jaman prasejarah atau praaksara, mereka telah membuat peralatan-peralatan dari batu. Adapun alat-alat yang mereka buat contohnya adalah kapak persegi, kapak genggam, kapak lonjong dan sebagainya.
 Akan tetapi proses pembuatan alat-alat dari batu tersebut masih sangat sederhana, mengingat tingkat berpikir mereka masih rendah. Meskipun masih sederhana, tetapi mereka sudah mulai mengenal dan mengembangkan teknologinya 
Bahkan sampai sekarang kebudayaan batu tersebut masih tetap ada, salah satu contohnya digunakannya batu-batu alam untuk membangun rumah dan gedung-gedung. Coba kalian bandingkan gambar ilustrasi dibawah ini !
Sejalan dengan berkembangnya kemampuan berpikir, maka manusia prasejarah atau praaksara sudah dapat atau mampu membuat peralatan-peralatan dari logam seperti tembaga, perunggu dan besi. Tradisi logam itulah yang sampai sekarang menjadi dasar pembuatan alat-alat yang berteknologi canggih.
a.       Sistim Pengetahuan
Manusia prasejarah atau praaksara juga telah mengenal pengetahuan meskipun tarafnya masih sederhana. Pada awalnya mereka telah memiliki pengetahuan tentang pembuatan alat-alat dari batu, sejalan dengan berkembangnya kemampuan berpikir, maka mereka dapat membuat alat-alat dari logam seperti tembaga, perunggu dan besi. Untuk membuat alat-alat dari logam tersebut manusia prasejarah atau praaksara telah mengnal teknik mencetak A Cire Purdue atau cetak hilang dan teknik Bivalve atau cetak ulang.
Dalam perkembangan lebih lanjut, kemampuan berpikir manusia terus meningkat, maka dapat membuat alat-alat dengan teknologi canggih untuk berbagai macam keperluan hidup. Sehingga perkembangan teknologi canggih pada saat ini merupakan kelanjutan dari perkembangan teknik pada jaman prasejarah atau praaksara yang sifat, bentuk maupun coraknya masih sangat sederhana.  Bagaimanakah dengan kalian? Apakah masih memiliki pola pikir seperti pada jaman batu ataukah sudah maju? Jawabannya adalah belajar lebih giat, agar dapat menyerap ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi.
a.       Sistim Ekonomi dan Mata Pencaharian
 Manusia adalah mahluk ekonomi. Manusia adalah mahluk yang selalu ingin hidup dan mempertahankan kehidupannya. Agar manusia tetap bertahan hidup, maka cara yang dilakukannya adalah berusaha memenuhi kebutuhan hidup. Demikian pula halnya dengan manusia yang hidup pada jaman prasejarah atau praaksara. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka mereka berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan cara mengumpulkan hasil-hasil hutan atau food gathering, berburu binatang liar dihutan, bercocok tanam tingkat awal
a.       Sistim Kesenian
Perkembangan sistim kesenian pada masyarakat prasejarah atau praaksara dimulai sejak masa berburu tingkat lanjut, dimana mereka membuat lukisan pada dinding gua dan batu karang. Lukisan manusia prasejarah tersebut merupakan ungkapan pengalaman berburu binatang liar dihutan sebagai salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan makan. Sebagai contoh adalah lukisan yang menggambarkan manusia sedang menunggang kuda, ditemukan digua Raha, pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Demikian pula lukisan cap tangan yang ditemukan di Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua.
 Adanya lukisan-lukisan tersebut merupakan bukti awal bahwa masyarakat prasejarah juga sudah memiliki hasrat seni. Melalui lukisan, masyarakat prasejarah yang belum mengenal tulisan berusaha untuk mewariskan seluruh pengalamannya dalam mencari makan dengan berburu binatang liar dihutan kepada generasi penerusnya

1 komentar: