Kamis, 16 Februari 2012

KEBUDAYAAN AUSTRO ASIA


Asia Tenggara merupakan istilah umum yang dipakai untuk menggambarkan wilayah daratan Asia bagian timur yang terdiri dari jazirah Indo-China, Birma, Thailand, dan pulau-pulau yang membentang ketimur seperti Andaman, Nicobar sampai New Guinea (Papua New Gini) serta kepulauan-kepulauan yang terdapat di Indonesia maupun Philipina. Jika dihubungkan dengan keadaan sekarang, wilayah Asia Tenggara meliputi negara-negara, seperti: Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Singapura, Brunai Darussalam, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja dan Timor Leste. Dengan demikian terjadi perubahan wilayah sebagai akibat dari perkembangan politik modern khususnya setelah Perang Dunia II maupun Perang Dingin.
Namun jika ditinjau dari segi perkembangan kebudayaan pada masa sebelum pengaruh India, China, maupun Eropa, sesungguhnya diwilyah Asia Tenggara telah memiliki ciri dan karakteristik perkembangan budaya tersendiri. Sesungguhnya pada masa pra Hindu, wilayah Asia Tenggara telah memiliki kebudayaan tersendiri yang pusat perkembangannya dimulai Bacson, Hoabinh dan Dongson. Perkembangan tersebut disertai dengan bukti-bukti arkhelogis, seperti artefak-artefak sisa peninggalan peralatan yang terbuat dari batu, tulang dan periuk dari tanah liat. Bersamaan dengan ditemukannya artefak tersebut ditemukan pula sisa-sisa manusia pendukungnya seperti Pithecanthropus Erectus, Homo Mojoketensis yang berasal dari jaman pleistosen tua. Sedangkan jaman ploistosen akhir telah melahirkan 11 tengkorak yang ditemukan di Ngandong, merupakan tipe perkembangan manusia yang lebih maju yang masih memiliki hubungan dekat dengan Pithekanthropus. Selain itu ditemukan pula tengkorak dari Wajak juga berasal dari jaman pleistosen akhir atau sesudah pleistosen yang masih berhubungan erat dengan manusia proto-australoid.
Bukti-bukti arkheologis tersebut memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan kehidupan manusia purba seperti pada Homo Mojokertensis dan Pithecanthropus Erectus yang memiliki hubungan dekat dengan Sinathropus Pekinensis. Demikian pula artefak-artefak yang ditemukan, juga memiliki hubungan sebagaimana artefak yang ditemukan di Soa (India) maupun di Anyath (Birma). Kemudian bukti-bukti tersebut digunakan oleh para ahli antropologi untuk memperkuat dugaan-dugaan mereka terhadap perkembangan bangsa-bangsa di wilayah Asia Tenggara.
Penelusuran perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara, tidak hanya didasarkan pada bukti-bukti arkheologis saja, namun diperkuat lagi dengan bukti-bukti linguistik. Menurut Von Haine Geldren bahwa terdapat hubungan antara kebudayaan neolithik seperti kampak lonjong yang ditemukan di Birma seperti yang digunakan oleh orang-orang Naga dan Assam, di Kamboja dan dibagian timur pulau-pulau Indonesia. Penggunaan kampak lonjong ini kemudian dihubungkan dengan penggunaan sampan yang terbuat dari papan. Von Haine Geldren juga berpendapat bahwa telah terjadi perkembangan kebudayaan Dongson pada jaman perunggu dan besi seperti nekara dan moko (gendering), kampak coarong, arca perunggu. Serta dalam waktu bersamaan berkembang pula kebudayaan megalithic seperti dolmen, arca-arca nenek moyang, batu penggilingan. Kedua macam jenis kebudayaan ini berusat di Tongking. Selain itu mengidentifikasi kampak berpundak dengan kebudayaan rakyat di Mon Khmer. Sedangkan P dan F. Sarasin menghubungkan perkembangan kebudayaan batu neolithik dan megalithik dengan migrasi dari bangsa Proto Melayu maupun bangsa Deutro Melayu. Namun Hendrik Kern mengajukan bukti-bukti linguistik yang terdapat di Champa, Cochin-China dan Kamboja sebagai tempat lahir kebudayaan di Asia Tenggara.
Dengan demikian sebelum pra Hindu-Budha, bangsa-bangsa si Asia Tenggara telah memiliki kebudayaan tersendiri. Sebagaiman Coedes telah merangkum karakteristik kebudayaan sebagai berikut :
1.       Bidang materiil, antara lain :
a.       Persawahabn dan perladangan padi dengan sistim irigasi.
b.      Peternakan sapi dengan kerbau.
c.       Penggunaan logam.
d.      Ahli dan terampil dalam menggunakan peralatan navigasi.
2.       Bidang sosila, antara lain :
a.       Pentingnya wanita dan keturunan dari garis ibu.
b.      Organisasi pertanian dan irigasi.
3.       Bidang agama, antara lain :
a.       Animisme.
b.      Pemujaan nenek moyang dan dewa tanah.
c.       Lokasi tempat-tempat suci.
d.      Penguburan dalam guci, gentong dan dolmen.
e.      Mitologi bercamur dengan dualisme kosmologi gunung lawan laut, mahluk bersayap lewan mahluk dalam air, orang gunung lawan orang pantai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar