Sabtu, 18 Februari 2012

KEBUDAYAAN BACSON-HOABINH


Pusatnya di pegunungan Bacson dan propinsi Hoabinh, dekat Hanoi, Vietnam. Ciri-cirinya adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran satu kepalan sehingga bagian tepinya menjadi sangat tajam. Hasil penyerpihan menunjukkan berbagai bentuk, seperti lonjong, segi empat, dan ada yang bentuknya berpinggang. Di  wilayah Indonesia, alat-alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Papua, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Penyelidikan terhadap kjokkenmoddinger (bukit kerang hasil sampah dapur) oleh Dr. P.V. Van Stein Callenfels tahun 1925, ditemukan kapak genggam Sumatra (Kapak Sumatralit), kapak pendek (hache courte), batu penggiling (pipisan), ujung mata panah, flakes, dan kapak Proto Neolitikum.
Ras Papua Melanesoid kehidupannya sudah setengah menetap, sedangkan cara memenuhi kebutuhan makan dengan berburu, dan bercocok tanam sederhana. Gua menjadi tempat tinggal seperti layaknya rumah, sehingga pada bagian dapurnya terdapat bukit sampah. Ras ini merupakan pendukung kebudayaan Mesolitikum yang sudah mengenal kesenian, seperti lukisan mirip babi hutan yang ditemukan di Gua Leang-Leang (Sulawesi) yang memuat gambar binatang dan cap telapak tangan.
Mayat dikubur dalam gua atau bukit kerang dengan sikap jongkok, beberapa bagian mayat diolesi dengan cat merah. Merah adalah warna darah, tanda hidup, dengan maksud agar dapat mengembalikan kehidupannya sehingga dapat berdialog.
Alat-alat batu jenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Lhokseumawe dan Medan (Sumatera), lembah Bengawan Solo (Jawa Tengah). Alat tersebut diperkirakan dipergunakan oleh jenis Pithecanthropus erectus di Trinil, Jawa Timur.Peralatan dibuat dengan cara yang sederhana, belum diserpih dan belum diasah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar